Oleh: MH. Said Abdullah*
Pesan ibadah Idul Adha tentang semangat berkurban tahun ini memiliki nilai khusus. Ada persambungan perintah berkurban dengan realitas kebutuhan kondisi kekinian. Pandemi Covid-19 dan dampaknya yang sangat luar biasa benar-benar menggugah mereka yang memiliki kemampuan rezeki berlebih untuk berkorban.
Dalam perspektif kontekstual -berdasarkan realitas sosial- dorongan semangat berkurban tidak hanya sebatas normatif. Bukan hanya menyembeli hewan korban, lalu dagingnya diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Lebih jauh lagi bagaimana menumbuhkan dan mengembangkan semangat kurban pada seluruh aktivitas keseharian.
Menyembeli hewan kurban yang secara khakekat lebih merupakan simbol ketaqwaan menegaskan pesan penting pada tataran kehidupan sosial. Kesediaan berkurban hewan kurban mutlak membutuhkan kelanjutan dalam wujud kepedulian sosial.
Hewan kurban di sini seakan menjadi stimulus untuk lebih menggugah dan membangkitkan semangat kepedulian kepada sesama. Dan kondisi serta situasi yang sangat luar biasa akibat pandemi memaparkan ‘tuntutan’ bahwa berkurban saat ini bukan sekedar seremoni simbolik, bukan hanya menyembeli hewan kurban pada momentum Idul Adha tetapi membutuhkan aplikasi riil dalam kehidupan keseharian.
Semangat ketaqwaan sebagai tujuan ibadah kurban tidak boleh berhenti dalam wujud hubungan vertikal kepada Allah semata. Mutlak perlu pembuktian sebagai kelanjutan pada tataran horizontal dalam wujud kepedulian sosial. Tidak hanya hablum min Allah tetapi juga minannas.
Al-Qur’an pada surat Al Imran ayat 134 sangat jelas dan tegas menyebutkan bahwa ketaqwaan pada tataran sosial ditandai kesediaan berbagi saat lapang maupun sempit. Dalam kondisi apapun mereka yang mengaku beriman diharuskan melanjutkan ketaqwaan melalui kepedulian kepada sesama.
Dengan mencermati situasi dan kondisi sosial masyarakat negeri ini, seperti juga terjadi di seluruh penjuru dunia, sangat jelas dibutuhkan sikap kepedulian pada sesama. Dampak pandemi Covid-19 secara kasat mata telah menyulitkan kehidupan ekonomi sebagian masyarakat.
Pemerintah setelah mendapat dukungan DPR telah melakukan langkah-langkah pemberian bantuan sosial pada masyarakat terdampak pandemi. Namun demikian upaya pemerintah tetap memerlukan partisipasi masyarakat baik secara individu maupun melalui kelembagaan.
Diperlukan kebersamaan dan kesediaan seluruh komponen bangsa untuk saling membantu mengatasi dampak sosial dan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Ikhtiar medis melalui kesungguhan masyarakat melaksanakan protokol Covid-19 perlu diikuti kesediaan peduli dan berbagi kepada sesama.
Pada konteks inilah ibadah Idul Adha tahun ini, yang berintikan semangat berkurban memiliki nilai sangat luar biasa. Semangat berkurban diharapkan berlanjut menjadi energi untuk mewujudkan solidaritas dan kepedulian kepada masyarakat yang terdampak pandemi Covid-19.
Berkurban merupakan wujud kesadaran keagamaan, keimanan kepada Sang Maha Kuasa. Dan kesadaran keagamaan itu secara sosial harus terwujud dalam sikap kepedulian kepada sesama. Dalam satu bagian firman Allah terpapar tegas dan jelas bahwa “Belum beragama, tergolong pendusta agama, mereka yang membiarkan orang-orang nestapa terlantar.” [*]
*Ketua Badan Anggaran DPR RI