SAMPANG, koranmadura.com – Di tengah pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), siswa belajar di rumah dengan sistem daring (online) bagi orang tuanya yang memiliki fasilitas gadget tentunya lumrah ditemui di berbagai daerah. Tapi bagaimana nasib siswa yang belajar dari rumah dengan sistem luring (offline) dan yang tidak memiliki sarana Gadget (HP)?
Seperti yang dialami Mohammad Farhan, siswa yang duduk di bangku kelas VI di SDN Rongtengah 2. Pasalnya, siswa ini harus menumpang jaringan internet WiFi untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Tidak hanya soal numpang jaringan internet, Farhan yang berasal dari keluarga kurang mampu ini diketahui seringkali harus menumpang gadget milik teman-temannya saat mengerjakan tugas lantaran kedua orang tuanya tidak memiliki fasilitas gadget. Bahkan pembelajaran dari rumah sistem luring diakuinya tidak pernah mendapat kunjungan guru.
“Saya tidak memiliki HP, kadang pinjam punya teman. Ada HP tapi punya kakak saya mas Juan, tapi dibawa kalau pergi kerja. Kalau pergi kerja, ya harus ngerjakan malamnya habis isyak. Kalau pergi kerjanya malam, ya bisa paginya pinjam HPnya untuk ngerjakan tugas,” ujar Mohammad Farhan saat ditemui di rumah penyedia WiFi Milik Suwarno.
Sementara Suwarno (55) warga Jalan Seruni, Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang, sekaligus pemilik rumah kontrakan yang di tempati kedua orang tua Farhan menyatakan, Farhan merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara dari pasutri bapak Yayak dan ibu Uwei.
“Farhan ini anak yang ketiga, saudaranya laki-laki semua. Kakak pertamanya bekerja sebagai satpam di Poltera, sedangkan kakak keduanya atas nama Johan dan masih duduk di bangku kelas XI di SMAN 3. Nah yang punya HP itu cuma kakaknya. Ya kadangkala HP saya yang dipinjam Farhan, kadangkala pinjam ke teman-temannya,” katanya.
Suwarno menceritakan, keluarga Farhan diakuinya memang berasal dari keluarga tidak mampu. Sebab meski orang tuanya berasal dari alamat domisili yang sama, namun hingga saat ini belum memiliki rumah sendiri. Sehingga kedua orang tua Farhan sering berpindah-pindah rumah sewa. Bahkan keluarga kedua orang tua Farhan harus mengontrak di rumahnya yang berisi dua kamar dengan biaya Rp 3 juta dalam setahun. Karena berasal dari keluarga tidak mampu, saudara dari ibu Farhan juga harus menempati rumah kosan yang berada di sebelah rumah kontrakan Farhan.
“Keluarganya memang tidak mampu dan memang tidak punya rumah sendiri, makanya dia ngontrak. Pernah dulunya ngontrak di depan rumah saya selama dua tahun. Dan yang ngontrak di rumah saya hampir empat tahun. Ibu Farhan kerjaannya membantu jualan nasi milik ibunya. Bapaknya tidak kerja, tapi dulunya kerja Satpam di tempat kesehatan milik dokter Bahrawi itu, tapi sudah berhenti,” ungkapnya.
Saat pandemi Covid-19, Suwarno mengaku menyediakan layananan WiFi agar bisa dinikmati para anak-anak tetangganya yang ingin mengerjakan tugas serta agar anak-anak tidak bermain bebas berkeluyuran.
“Sewanya Rp 2 ribu per enam jam. Kadang untuk siswa yang ingin mengerjakan tugas, saya gratiskan. Saya untungnya hanya laku jualan jajanan anak-anak ini,” ucapnya. (MUHLIS/ROS/VEM)