SAMPANG, koranmadura.com – Kasus gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama (stunting) di wilayah Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur menjadi perhatian serius. Sebab kasus stunting di Kota Bahari tergolong tinggi.
Ketua Unit Kajian Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga Surabaya, Prof Sri Sumarmi menyampaikan, wilayah Kabupaten Sampang saat ini menjadi locus stunting atau menjadi fokus penanganan daerah stunting di Indonesia.
“Ada 160 Kabupaten yang menjadi locus stunting di Indonesia. Dan di Jawa Timur, ada 12 Kota/Kabupaten yang salah satunya adalah Sampang dengan urutan masuk lima besar. Urutannya tertinggi di Jawa Timur yaitu Bondowoso, Sumenep, Probolinggo, Lomongan, baru Sampang,” katanya usai beraudiensi dengan Bupati, Wabup dan Dinkes Sampang, di Pendapa Trunojoyo, Rabu, 15 Juli 2020.
Lanjut Dosen Kesehatan Unair ini menyatakan, berdasarkan data nasional dari hasil Riset Kesehatan (Riskes) tahun 2013 lalu, kasus stunting di kota bahari mencapai 41,6 persen yang terjadi dari anak balita yang ada di seluruh Kabupaten Sampang.
“Data Riskes itu yang dipakai pemerintah pusat untuk dijadikan acuan penanganan stunting secara nasional,” terangnya.
Pihaknya juga menyampaikan, faktor tingginya kasus stunting salah satunya adalah faktor ekonomi.
“Salah satu faktor yang mendasar yaitu faktor ekonomi. Karena stunting ini merupakan kasus kronis atau kekurangan dengan waktu panjang. Atau bahkan mungkin karena pengetahuan yang kurang dalam mengasuh anak,” jelasnya.
Disisi lain, Sri Sumarmi mengaku, kasus stunting dikuinya dapat dicegah dan ditangani pada usia dua tahun ke bawah pada saat periode seribu hari pertama kehidupan anak.
“Kalau di atas usia itu sudah telat. Artinya, penanganannya yaitu sejak janin mulai tumbuh di kandungan sampai anak usia dua tahun,” paparnya.
Plt Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sampang, Agus Mulyadi mengaku, sejak 2019 pihaknya didampingi pihak akademisi dalam mengkaji dan mengidentifikasi problem stunting di wilayahnya.
“Kenapa masih tinggi, karena stunting ini tidak bisa di intervensi cepat. Dan stunting ini merupakan masalah gizi kronis bukan masalah gizi akut. Jadi stunting ini bukan hanya persoalan tahun ini, tapi memang tiga atau bahkan 10 tahun lalu yang dampaknya terus berjalan,” ucapnya.
Maka dari itu, Agus mengaku saat ini mencoba mengintervensi dari hulu sampai hilir. “Hulunya ya calon pengantin, yaitu nanti kesehatannya diperkuat, sehingga saat melahirkan, si ibu sehat dulu kemudian anaknya. Jadi anak yang dilahirkan harapannya jauh dari stunting,” akunya.
Ditanya perkembangan kasus stunting di Sampang, Agus sapaan akrab Agus Mulyadi mengaku ada dua sumber data. Data pertama yang dipakai pihak akademisi merupakan data Riskes dasar. Sedangkan kedua, sumber data yang dipakai oleh Pemkab Sampang yaitu data yang dijadikan bahan evaluasi sebagai sumber data operasi timbang yang dilakukannya dua kali dalam setahun.
“Nah terakhir, angka stunting di sini mencapai 9 persen dari total kisaran 64-67 ribu bayi yang ada di Sampang. Angka 9 persen itu berawal dari 40 persen terus turun ke angka 36 persen, 26 persen, kemarin 17 persen dan sekarang 9 persen. Nah dua data itu kami bandingkan sebagai evaluasi kami,” jelasnya. (Muhlis/SOE/VEM)