KORANMADURA.com – Ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 tercatat minus hingga 5,32% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama dalam kontraksi ekonomi ini.
Kepala BPS Suhariyanto mengatakan konsumsi rumah tangga menjadi komponen paling besar yang membuat kontraksi ekonomi Indonesia di kuartal II-2020. Konsumsi rumah tangga yang rendah ini membuktikan daya beli masyarakat Indonesia sedang lesu.
“Sumber PE Indonesia kontraksi 5,32% yang menyebabkan tertinggi adalah konsumsi RT yaitu 2,96%, diikuti PMTB (Pembentukan Tetap Modal Bruto) 2,73%, ke depan ekonomi kita dipengaruhi konsumsi bagaimana kedua komponen ini lebih bergerak baik,” kata Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Rabu, 5 Agustus 2020.
Konsumsi rumah tangga sendiri tercatat mengalami kontraksi hingga 5,51% di kuartal II-2020. Sementara untuk PMTB kontraksi 8,61%.
“Eskpor -11,66%, LNPRT (Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga) -7,76%, konsumsi pemerintah -6,90%, dan impor -16,96%” jelas Suhariyanto.
Lebih lanjut Suhariyanto mengatakan seluruh komponen yang ada dalam konsumsi rumah tangga tercatat mengalami kontraksi.
“Komponen konsumsi seluruhnya kontraksi kecuali komponen perlengkapan rumah tangga dan kesehatan pendidikan yang tumbuh positif 2,02%. Selebihnya seluruh komponen konsumsi rumah tangga terdalam pertumbuhan restoran dan hotel, diikuti oleh di transportasi dan komunikasi,” tuturnya. (DETIK.com/ROS/DIK)