SAMPANG, koranmadura.com – Sejumlah perwakilan petambak garam di Kecamatan Pengarengan, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, mendatangai PT. Garam (Persero) setempat. Kedatangan mereka untuk melakukan audiensi terkait harga garam yang tak kunjung naik.
Ketua Forum Petani Garam Madura ( FPGM) Sampang, Moh Yanto menyatakan, selain berdiskusi dengan PT. Garam, pihaknya ingin mengklarifikasi adanya informasi garam produksi yang dihasilkan PT Garam dijual sebesar Rp 350 ribu per ton kepada perusahan pengolah garam. Hal itu membuat harga garam rakyat ikut terdampak.
“Dengan dijual seharga Rp 350 ribu per ton, akibatnya harga itu malah dijadikan harga patokan oleh perusahaan pengolah garam yang lain dan tidak mau beli garam di atas harga itu. Jadi intinya kami itu klarifikasi kepada pihak PT Garam,” ujarnya, Selasa, 18 Agustus 2020.
Petambak garam Sampang meminta penjualan hasil produksi milik PT Garam minimal seharga Rp 600 ribu per ton. Sehingga bisa dijadikan patokan harga bagi perusahaan pengolah lainnya ketika hendak menyerap garam rakyat.
Selain itu, para petambak garam juga meminta PT Garam agar membuat perusahaan atau pabrik pengolah garam. Sebab, dengan kondisi harga Rp 400 ribu per ton menjadikan kurang lebih 40 persen lahan tambak dari total 420 ribu hektare tak berproduksi.
“Tadi pak Kades Pengarengan menyebutkan ada sekitar 40 persen lahan dari total keseluruhan tidak berproduksi karena harga garam di pasaran sangat rendah. Tapi menurut saya, lahan yang tidak produksi bisa mencapai 50-60 persen, sebab warga yang memiliki lahan tambak garam yang lokasinya sulit diakses kendaraan akan memakan biaya produksi dan operasional yang lebih tinggi. Sehingga petambak menjadi enggan berproduksi,” akunya.
Berdasarkan perhitungan datanya, Yanto menyebutkan stok garam rakyat hasil produksi milik petambak garam Sampang yang belum terserap mencapai 400 ribu ton.
“400 ribu ton itu bukan hasil produksi tahun ini, tapi hasil produksi tahun 2019 lalu. Makanya kami juga meminta kepada PT Garam untuk membuat perusahaan atau pabrik pengolah garam hasil produksi sendiri. Sebab perusahaan pengolah garam terkesan nakal, masak meski diperintahkan untuk menyerap garam rakyat, sehari buka seminggu tutup,” ungkapnya penuh curiga.
Sementara Direktur Pengembangan PT Garam (persero) Arif Haendra menyatakan tetap akan bersinergi dengan rakyat agar harga garam lebih baik dari saat ini. Bahkan pihaknya mengaku tidak hanya petambak garam yang terkena dampaknya, namun pihaknya juga terkena dampak harga garam dendah.
“PT Garam sendiri menjual di bawah harga keekonomian produksi, demikian juga para petambak garam,” akunya.
Menurut Arif, rendahnya harga garam saat ini lantaran over suplai (stok berlebih), sehingga menjadikan harga garam anjlok. Berdasarkan data yang dimilikinya, stok di awal 2020 kurang lebih sebanyak 2,1 juta ton. Sedangkan suplai garam dari petambak garam kurang lebih 2,9 juta ton dari hasil produksi di tahun 2020. Kemudian garam impor mencapai hampir 3 juta ton.
“Sehingga total keseluruhan menjadi di atas 7 juta ton. Sedangkan kebutuhan garam skala nasional hanya 4,4 juta ton. Jadi di akhir tahun akan ada penambahan stok garam di skala nasional, PT Garam maupun di petambak garam. Artinnya stok garam itu naik dari 2,1 juta ton menjadi 3,1 juta ton garam, inilah yang menyebabkan harga garam jatuh hingga saat ini. Karena semua orang pada tahu, akan ada satu juta ton garam takkan terjual di tahun ini,” jelasnya. (Muhlis/SOE/DIK)