SUMENEP, koranmadura.com – Ketersediaan air bersih samakin menipis pada musim kemarau tahun ini. Akibatnya banyak warga Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur mulai kekurangan air.
Seperti yang dialami warga Desa Tambak Agung Timur, Kecamatan Ambunten. Saat ini, warga setempat sedang berjuang mendapatkan air untuk dikonsumsi sehari-hari. Karena untuk mendapatkan air, mereka harus rela berjalan hingga jarak antara 1 sampai dengan 2 km, bahkan untuk dikonsumsi masyarakat harus membeli.
“Sudah satu bulanan warga kesulitan mendapatkan air bersih, untuk kebutuhan minum atau masak saja sulit,” kata Abu Hanif, salah satu warga Desa Tambak Agung Timur, Selasa, 11 Agustus 2020.
Kekeringan, sambungnya, disebabkan sumber mata air atau sumur yang selama ini menjadi andalan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air bersih kering. Kondisi tersebut sudah berlangsung sejak tahun-tahun sebelumnya.
“Tahun bisa dikatakan terparah dibandingkan tahun sebelumnya. Kami mohon ada perhatian dari pemerintah,” harapnya.
Kondisi yang sama dialami warga Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan. Untuk mendapatkan air bersih mereka harus mengeluarkan biaya antara Rp300-Rp350 per pikap. Jika digunakan untuk kepentingan mandi dan konsumsi, satu kali beli diperkirakan hanya cukup lima hingga tujuh hari pemakaian.
Selain itu, sebagian warga memanfaatkan air bersih sisa musim penghujan. Caranya, warga membuat tandon air seperti sumur guna menampung air hujan.
Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, R. Rahman Riadi mengatakan Sumenep sudah ditetapkan sebagai status siaga kekeringan oleh bupati. Keputusan tersebut menjadi dasar BPBD untuk menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah desa yang mengalami kekeringan.
Ada beberapa desa yang telah tercatat sebagai langganan kekeringan, salah satunya adalah Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan.
”Untuk mendapatkan air bersih itu tidak serta merta langsung bisa dikirim. Harus ada proposan atau pengajuan dulu dari desa atau kecamatan,” katanya. (JUNAIDI/SOE)