SAMPANG, koranmadura.com – Meski sudah masuk di zona kuning dalam peta sebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Jawa Timur, percobaan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka tingkat SMA/sederajat di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, tetap menerapkan protap kesehatan.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Timur di Sampang, Asyari menegaskan uji coba KBM tatap muka tetap mematuhi protokol kesehatan, yaitu menyediakan tempat cuci tangan, pakai masker dan social distancing antar kursi siswa.
“Meski di Sampang sudah masuk peta zona kuning, dengan rasa kehati-hatian kami, penerapan uji coba KBM tatap muka tetap menggunakan standar zona orange,” akunya saat ditemui di meja kerjanya, Selasa, 18 Agustus 2020.
Berdasarkan kebijakan Gubernur Jawa Timur, Asyari menyampaikan bahwa apabila wilayah berada di zona merah maka pembelajarannya menggunakan sistem daring. Khusus zona orange diperbolehkan dengan catatan kehadiran siswa maksimal sebanyak 25 persen, sementara zona kuning dengan kehadiran siswa 50 persen.
“Dan kami dalam uji coba ini menggunakan standar zona orange yakni 25 persen kehadiran siswa. Sedangkan 75 persennya belajar di rumah tapi nanti itu sistem rolling setiap harinya. Misal di kelas ada 40 siswa, jadi yang masuk itu hanya 10 siswa, sisanya ya bergantian di hari berikutnya dengan tetap berjumlah 10 siswa yang masuk. Yang belum kebagian masuk sekolah itu tetap sistem daring,” paparnya.
Menurutnya, di masa percobaan KBM tatap muka dengan pencontohan tiga SMA diakuinya mendapat persetujuan dari Bupati Sampang. Menurut penilaiannya, pembelajaran daring sebelumnya dianggap kurang memuaskan. Uji coba KBM akan dilakukan selama dua pekan ke depan, kemudian dievaluasi bersama seluruh Kacabdin se-Jawa Timur dan Gubernur Khofifah Indar Parawansa.
“Faktornya kan banyak, karena gadget, kuota internet dan jaringan internet. Sehingga dipastikan memang pembelajaran daring yang efektif tidak bisa dicapai karena tidak menjangkau seluruh siswa. Dan itu dipahami oleh semua kepala cabang di Jatim atas keluhan para kepala sekolah,” ujarnya.
Asyari mengaku, sebelum tiga sekolah menyatakan kesanggupan untuk uji coba pembelajaran tatap muka, pihaknya sudah memerintahkan pihak sekolah untuk terus berkoordinasi dengan tim Satgas Covid-19 Kecamatan. Tiga sekolah yang dijadikan uji coba di antaranya SMAN 1 Torjun, SMAN 1 Ketapang dan SMKN 1 Tambelangan.
“Penentuan sekolah yang dijadikan percontohan itu dari kami. Tapi Kami pun juga berkoordinasi dengan pihak sekolah terkait kesanggupannya. Dan sekolah-sekolah yang kami pilih sudah tidak lagi masuk zona merah di sebaran Kecamatan,” tegasnya. (Muhlis/SOE/DIK)