MH. Said Abdullah
Sebanyak 44 negara telah menyatakan dan dinyatakan mengalami resesi ekonomi sebagai akibat pandemi Covid-19. Jumlah negara-negara itu sangat mungkin bertambah jika mencermati kurva terinfeksi Covid-19 di berbagai negara yang masih belum menunjukkan penurunan.
Realitas ekonomi berbagai negara itu sebenarnya tidak mengejutkan. Jauh sebelumnya, berbagai lembaga ekonomi dunia sudah memprediksikan kontraksi ekonomi dunia pada tahun ini berada dalam kisaran minus 7 persen. Dengan demikian penegaskan 44 negara mengalami resesi hanya persoalan waktu semata termasuk pula beberapa negara lain, yang kemungkinan akan menyusul menegaskan kondisi telah memasuki resesi ekonomi.
Secara faktual parameter sebuah negara mengalami resesi sebenarnya sangat relatif. Indikator umum yang dipakai biasanya kontraksi PDB riil dua kuartal berturut-turut. Atau, menurut National Bureaus of Economic Research (NBER) AS sebuah negara disebut resesi bila terjadi penurunan signifikan dalam aktivitas ekonomi yang tersebar di seluruh sektor ekonomi, yang berlangsung lebih dari beberapa bulan. Ini terlihat dalam PDB riil, pendapatan riil, lapangan kerja, produksi industri, dan penjualan grosir-eceran.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia mengalami konstraksi ekonomi minus 5-3 pada kuartal 2 dan diperkirakan pada kuartal 3 akan minus 2.9 hingga 3.3% dan dari dua kuartal ini indonesia juga akan memasuki masa resesi. Namun perkembangan kuartal 4 akan positif. Jadi secara tahunan konstraksi ekonomi indonesia berkisar -1.1 sd 0.3%.
Dalam konteks ekonomi resesi sebenarnya bukan ‘hantu’ yang sangat menakutkan. Resesi secara ekonomi lebih merupakan fluktuasi normal perkembangan ekonomi dalam satu negara; sekali waktu naik, lain waktu turun. Sama dengan aktifitas perdagangan sebuah perusahaan yang sekali waktu ada peningkatan penjualan, lain waktu mengalami penurunan.
Yang paling penting adalah itikad dan kesungguhan dari seluruh jajaran pemerintah dan dunia usaha, termasuk juga masyarakat luas. Bagaimana merespon secara cerdas kemunduran ekonomi agar kembali ke dalam situasi normal.
Pertama mutlak diperlukan pemahaman persoalan mengapa kondisi ekonomi mengalami penurunan. Ini ibarat dokter ingin mengobati sangat perlu diagnosa dan pemahaman penyakitnya. Untuk kondisi penurunan ekonomi saat ini, baik dunia maupun Indonesia penyebabnya sangat jelas yaitu pandemi Covid-19.
Dampak pandemi memang sangat luar biasa sehingga merontokkan negara yang bahkan sebelumnya diketahui memiliki kondisi ekonomi sangat kuat. Siapapun mengetahui Jerman, Jepang, Inggris, Kanada, Finlandia, Swiss, Singapura untuk menyebut sebagian contoh sangat stabil ekonominya. Namun ternyata tetap rontok mengalami kesulitan terdampak pandemi Covid-19.
Kedua, setelah diketahui apa penyebabnya, seharusnya semua pihak berupaya konsentrasi mengatasi sumber masalahnya. Jangan melebarkan masalah ke persoalan politik dan lain hal, yang sama sekali tidak berhubungan dengan sumber masalah.
Resesi saat ini sepenuhnya karena terdampak pandemi Covid-19. Karena itu, upaya mengatasinya bagaimana memerangi dan memutus pandemi Covid-19 agar segera berakhir. Tanpa upaya serius menyelesaikan persoalan pandemi, sangat sulit berharap ada recovery ekonomi.
Di sini penting seluruh jajaran pemerintah dari pusat sampai ke daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, bekerja keras menggerakkan masyarakat tertib protokol kesehatan agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Masyarakat perlu diajak disiplin dengan pemahaman jelas dan tegas bahwa kehidupan new normal jika diharapkan mampu mengembalikan kondisi ekonomi harus didukung disiplin kuat melaksanakan protokol kesehatan seperti memakai masker, jaga jarak dan selalu rajin cuci tangan serta mengurangi aktivitas berkerumun.
Belakangan ini ada ironi menggelikan ketika muncul berita 59 negara menolak kehadiran warga negara Indonesia lalu menyalahkan pemerintah. Lho, ini jelas salah kaprah, jauh dari logika sehat. Sehebat apapun pemerintah menangani pandemi Covid-19 jika masyarakat jauh dari sikap disiplin, tidak akan pernah berhasil. Kedisiplinan masyarakat mutlak diperlukan dan menjadi penentu upaya memutus pandemi Covid-19.
Recovery ekonomi negeri ini jelas dan mutlak tergantung kondisi pandemi Covid-19. Semua sangat tergantung disiplin dan itikad masyarakat secara keseluruhan. Jika masyarakat tertib melaksnakan melaksanakan protokol kesehatan, Covid-19 berlalu, ekonomipun akan mengeliat kembali. Ayo disiplin pakai masker, jaga jarak dan rajin cuci tangan untuk menyongsong Indonesia hebat.