SAMPANG, koranmadura.com – Diduga karena korsleting listrik, rumah permanen milik kakek Jauhari (85), warga Desa Temoran, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, ludes dan rata jadi tanah usai dilalap si jago merah.
Kasi Ops Damkar, Satpol PP Sampang, M Maftuh Fathorahman menyatakan, peristiwa kebakaran satu rumah semi permanen di desa Temoran, Omben, terjadi pada Sabtu, 12 September 2020 lalu. Pihaknya mengetahui peristiwa tersebut setelah mendapat informasi sekitar pukul 09.45 wib pagi hari.
“Awalnya karena diduga korsleting listrik yang kemudian percikan api dengan cepat membesar dan terus menjalar karena kondisi udara cukup panas serta angin cukup kencang. Apalagi bangunan konstruksinya semi permanen, sehingga api pun cepat membesar. Peristiwa kebaran rumah ini terjadi tiga hari yang lalu, yaitu pada Sabtu, 12 September 2020,” ujar Maftuh Kepada Koranmadura.com, Selasa, 15 September 2020.
Dalam peristiwa tersebut, Maftuh mengaku, menerjunkan satu unit Damkar dan dua unit tanki air.
“Kobaran api bisa dikendalikan sekitar pukul 11.30 wib,” pungkasnya.
Sementara Iklimah (24), tetangga korban kebakaran menceritakan, peristiwa kebakaran terjadi di saat penghuni rumah sedang berada di luar.
Hanya saja kala itu, kakek Jauhari yang dalam kondisi strok sedang tiduran di kasur rumahnya, namun tidak berdaya di kala api terus membesar.
“Rumah itu dihuni ibu Latifah (48) beserta kedua anaknya yang masih kecil serta kakek jauhari, orang tuanya. Sedangkan suami Ibu latifah meninggal beberapa tahun lalu. Saat kebakaran, Ibu Latifah keluar rumah, sedangkan dua anaknya sedang sekolah. Cuma ada kakek Jauhari yang lagi struk di dalam rumah,” katanya.
Ketika api membesar, Lanjut Mahasiswi ini menceritakan, kakek Jauhari berusaha menyelamatkan diri dari kobaran api yang sudah mulai membakar separuh kasurnya dengan menjatuhkan diri ke lantai sambil berteriak meminta tolong kepada tetangganya.
“Api yang kian membesar dan teriakan kakek Jauhari semakin lantang, sehingga akhirnya didengar tetangga dan kemudian berhasil diselamatkan ke luar rumah. Namun untuk harta bendanya hingga tabungan uang senilai Rp 2 juta dari hasil tali asih kedua cucunya juga ikut ludes. Sedangkan Ibu Latifah sendiri tidak bekerja. Dan semenjak Pak Abdul (suami) ibu Latifah meninggal, ia hanya mengandalkan tali asih santunan anak yatim dari dermawan. Jadi akibat peristiwa ini, kami berharap pemerintah ikut peduli terhadap nasib keluarga ibu Latifah yang saat ini hanya tinggal di gubuk kecil,” ungkapnya sedih. (MUHLIS/ROS/VEM)