SUMENEP, koranmadura.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Edi Rasiyadi, memaparkan alasan sebagian wilayah di Kecamatan Saronggi di-lockdown.
Menurut dia, alasan paling mendasarkan diberlakukannya kegiatan lockdown di Kecamatan Saronggi karena tingginya angka kematian akibat Covid-19 di daerah tersebut. Itu pun dalam waktu yang cukup singkat.
“Kebijakan itu diambil menindaklanjuti banyaknya korban (meninggal) di Saronggi, dan waktunya cukup singkat,” papar pria yang akrab disapa Edi ini, Senin, 21 September 2020.
Baca: Kecamatan Saronggi di Sumenep Lockdown!
Dia menjelaskan, persentase kasus meninggal gegara Covid-19 di Saronggi sekitar 18 – 20 persen. Paling tinggi dibanding dengan kecamatan lain di kabupaten paling timur Pulau Madura.
Bahkan, informasi yang diterimanya, enam kasus terkonfirmasi Covid-19 yang meninggal dunia di kecamatan hanya dalam kurun waktu 20 sampai 25 hari. “Jadi sangat singkat,” tambahnya.
Untuk itu, dalam jangka waktu 14 hari ke depan sejak hari ini, di sana dilakukan lockdown. Masyarakat yang hendak keluar masuk wilayah tersebut harus mendapat izin dari aparat yang bertugas berdasarkan tingkat kepentingannya.
“Jajaran Polres dibantu TNI serta didukung oleh masyarakat akan melakukan isolasi terhadap sebagian daerah di Saronggi. Kami juga akan lebih mengaktifkan kampung-kampung tangguh,” tegasnya.
Baca: Harapan Masyarakat Pasca Kecamatan Saronggi di Sumenep Lockdown
Sekadar diketahui, dari 14 desa di Kecamatan Saronggi, tujuh di antaranya terkena kebijakan lockdown, yaitu Desa Saroka, Kebun Dadap Barat, Kebun Dadap Timur, Tanah Merah, Langsar, Tanjung, dan Pagar Batu. (FATHOL ALIF/ROS/VEM)