PAMEKASAN, koranmadura.com – Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) untuk Madrasah Diniyah (Madin) di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, diduga dipotong Rp 4 juta dari total bantuan Rp 10 juta.
Bantuan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ini sebagian sudah dicairkan ke lembaga Madin.
Sumber koranmadura.com menyebutkan, bantuan BOP ini disampaikan melalui telepon oleh orang atau petugas yang berkepentingan, pihak sekolah diminta untuk menyetor sertifikat/piagam lembaga Madin, nomor Kepala Sekolah, dan nomor rekening.
Bantuan itu, fakta sekalipun, hanya melalui telepon, bantuan dicairkan hanya Rp 10 juta melalui nomor rekening, namun ketika penarikan dipotong Rp 4 juta.
“Bantuan yang dicairkan ke nomor rekening Rp 10 juta, namun saat penarikan didampingi. Setelah itu dipotong Rp 4 juta,” kata salah satu Kepala Sekolah Madin di Pamekasan.
Kepada Kepala sekolah Madin itu, petugas blak-blakan menyampaikan bahwa nilai bantuan Rp 10 juta tapi dipotong Rp 4 juta, uang pemotongan itu untuk ‘Orang Dalam’.
“Proses bantuan hanya via telepon, kata orang yang menghubungi bebas survei,” ungkapnya.
Dilain kesempatan, Kepala Kemenag Pamekasan, Afandi mengaku, tidak tahu. Menurut Afandi, proses bantuan BOP tersebut tidak melalui jalur usulan dari Kemanag melainkan dari aspirator.
Kendati itu, Afandi mengakui bahwa, Kemenag Pamekasan diperintahkan oleh pemerintah pusat untuk memverifikasi lembaga Madin yang akan mendapatkan BOP tahap kedua.
“Untuk tahap ke-2 Kemenag memverifikasi dan memyampaikan tidak ada komitmen atau kesepakatan apa, untuk tahap 2 masih dipending menunggu hasil verifikasi,” ungkap Afandi, saat dikonfirmasi koranmadura.com, Rabu malam, 14 Oktober 2020. (RIDWAN/ROS/VEM)