SAMPANG, koranmadura.com – Merasa lamban dalam penanganan kasus penganiayaan yang menimpa dirinya pada September 2020 lalu, Lukman (33), warga asal Desa Gunung Maddah, Kecamatan Sampang, Madura, Jawa Timur, mendatangi Mapolsek Kota, Senin, 12 Oktober 2020.
Pelapor Lukman bersama istrinya saat di Mapolsek Sampang, mengaku pelaporan kasus yang menimpa terhadap dirinya dilakukan pada Jumat, 16 September lalu. Bahkan Lukman menyatakan, para terlapor akan dilakukan penangkapan oleh polisi. Namun hingga saat ini para terlapor yang berjumlah empat orang belum juga dilakukan.
“Makanya kami ke sini (Polsek Sampang) untuk menanyakan kejelasan pelaporan saya. Tadi saat di dalam, polisi bilang yang mau menangkap para terlapor akan dilakukan perlahan, sebab para terlapor, katanya pak polisi susah,” akunya.
Lukman mengaku, dirinya melaporkan ke pihak polisi karena dirinya mendapat penganiayaan dengan dikeroyok oleh empat orang (terlapor). Pengeroyokan terjadi di saat dirinya bersama saudaranya sedang menebang pohon pisang yang sudah matang di ladang miliknya.
“Sempat cekcok antara saudara saya dengan terlapor pertama. Karena yang cekcok perempuan, saya biarkan. Tapi tiba-tiba, terlapor lainnya (terlapor kedua) yang merupakan anaknya datang dengan membawa batang kayu. Karena saya khawatir dipukulkan ke saudara saya, akhirnya saya datangi, tapi tiba-tiba terlapor ini malah memukuli saya sampai kayu yang dipegangnya patah dan terlepas jatuh,” ceritanya.
Tidak sampai disitu, lanjut Lukman mengaku telapor kedua yang sudah memukulinya kemudian kembali melancarkan pukulannya, namun terlapor itu tidak mengenainya hingga tersungkur jatuh ke bawah, dirinya juga sempat dicekik hingga tersungkur jatuh ke tanah oleh terlapor ketiga yang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuannya.
“Malah ketika terlapor kedua jatuh, saat itu mau saya pukul juga, tapi tidak jadi karena saya mikir ini malah berurusan hukum. Ya jadinya saya mencoba terus mengelak meski dikeroyok, malah saya ini dicekik sama terlapor ketiga yang baru datang. Bahkan ketika saya posisi dicekik hingga tersungkur di tanah, malah saya mau di lempar sesuatu sama anaknya (terlapor keemlat), tapi tidak jadi karena posisi di atas badan saya kan ada ayahnya, tapi si anaknya itu malah cari posisi untuk menginjak saya,” akunya.
Setelah itu, Lukman menyatakan tidak lama kemudian, penganiayaan terhadap dirinya terhenti setelah didatangi dua orang warga sekitar.
“Ya jadinya buyar semuanya. Saya pun lari dan melaporkan ke Kades dan juga kemudian melapor ke Polisi,” terangnya.
Sementara Kapolsek Sampang, Iptu Tomo melalui Kanitreskrim Aipda Yunus Supriyono mengaku, kasus yang dilaporkan oleh warga Desa Gunung Maddah tetap berlanjut. Bahkan kasus tersebut sudah masuk tahap sidik.
“Iya barusan kami kedatangan warga Desa Gunung Maddah yang tidak lain merupakan pelapor dugaan penganiayaan. Yang jelas kasus dugaan itu tetap berlanjut,” katanya singkat. (MUHLIS/ROS/VEM)