PAMEKASAN, koranmadura.com – Para pengusaha batik di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, memilih mengembangkan pemasaran dengan cara online. Pilihan itu untuk menyiasati tersendatnya pemasaran secara langsung atau offline.
Ketua Kerukunan Pedagang Batik Mandala, Pamekasan, Ahmad Zahid, mengatakan, sejak beberapa bulan terakhir ia dan anggofa kelompoknya mulai membuka kios online. Sebagian di antara mereka membuat situs khusus penjualan batik dan ada yang menggunakan media sosial dengan membuat grup khusus pasar batik.
“Kondisi penjualan batik sempat tersendat sejak pandemi dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar. Kami terpaksa mencari jalan lain untuk pemasaran, salah satunya dengan cara online,” kata Zahid.
Menurut Zahid, sejak membuka kios online, penjualan batik mulai meningkat dan pemesannya tidak hanya dari daerah-daerah yang selama ini menjadi sasaran penjualan batik Madura, tetapi juga dari luar Jawa, bahkan Malaysia dan Arab Saudi.
Bahkan, motif batik yang selama ini tidak begitu diminati di pasaran offline, justru penjualannya meningkat. Misalnya, motif serat kayu dan malate satompang (motif bunga melati).
“Ada pergeseran minat pasar sejak kami membuka kios online. Ini disebabkan terbukanya lahan pasar baru yang memiliki kegemaran berbeda terhadap motif, dari pangsa pasar sebelumnya,” kata Zahid.
Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pengembangan pasar secara online, jelas dia. Kelebihannya, para pedagang seperti memiliki banyak kios karena selain kios yang selama ini dimiliki, juga kios online yang bisa dibuka oleh peminat batik tanpa batasan waktu maupun lokasi.
Selain itu, dengan cara online, hubungan antara penjual dan pelanggan lebih dekat, karena komunikasi bisa lebih intens melalui komunikasi online.
“Kalau sebelumnya, begitu konsumen membeli, hubungan selesai, kecuali pelanggan. Tapi melalui online, kami bisa sering jalin komunikasi melalui komentar di web atau melalui akun media sosial lain,’ katanya.
Kekurangannya, jelas Zahid, seringkali ada komplain dari pembeli karena merasa barang yang diterima tidak seperti gambar yang ditampilkan di kios online. Itu disebabkan karena calon pembeli tidak bisa melihat barang secara langsung.
“Terkadang karena pengaruh pencahayaan saat pengambilan gambar barang, berpengaruh pada tampilan barang yang dijual,” katanya.
Seorang pebatik Pamekasan, Mahmud, mengatakan pesanan meningkat dalam beberapa bulan terakhir sejak sejumlah pedagang membuka kios online.
“Ada peningkatan meski masih berada dalam masa pandemi,” katanya. (G. MUJTABA/ROS/VEM)