Oleh: Faruq Bytheway (*)
Leadership is not position, but action. Kalimat tersebut banyak beredar dipermukaan dan seringkali menjadi kutipan oleh para narasumber terkemuka di berbagai forum-forum besar. Namun seringkali sulit dijalankan. Kalimat itu sendiri pertama kali diungkapkan oleh salah satu ilmuwan eropa terkemuka ; Donald H. McGannon ia adalah salah satu eksekutif industry di eropa dan seringkali menjadi motivator untuk para pemimpin muda disana. Namun apa yang ia sampaikan atas ungkapannya sukar dijalankan oleh para si pendengar. Mengapa demikian? Menurutnya karena masih banyak yang salah kaprah terkait apa sebenarnya pemimpin itu sendiri dan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang dapat memimpin?
Waktu pertama kali saya terjun di dunia kampus bagi saya (yang dulu masih cupu-cupunya) Tiap-tiap organisasi pasti memiliki pola pengkaderan yang berbeda-beda, baik diberbagai organisasi manapun, terkhusus organisasi intra maupun ekstra kampus. Sebagai mantan mahasiswa baru (maaf sekarang telah berubah basi) saya dipertemukan dengan keduanya. Salah satu organisasi yang saya jumpai kali adalah organisasi intra kampus seperti Himpunan Mahasiswa jurusan (HMJ), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM).
Apa yang paling menggiurkan dan juga terharu ketika kita bertemu dengan orang-orang yang dianggap penting di dalam kampus? Pasti yang membuat hal itu terjadi adalah ketika kita melihat (sambil mangap-mangap) ketua presma orasi didepan mahasiswa baru yang pada saat itu masih cupu, lugu dan gampang dipengaruhi (hampir marip daun kering, hehe). Ketika kita secara bersamaan mendengar Hidup Mahasiswa!, hidup mahasiswa!, hidup mahasiswa! Langsung seketika itu juga kita ingin bercita-cita menjadi seperti orang yang meneriakkan kata itu, padahal masuk kampus gak ada cita-tita yang nyampek kesitu (jadi mahasiswa karena paksaan dari orang tua, mau nyempetin berkhayal) apalagi mau menduduki jabatan kayak begituan, namun semenjak kejadian tersebut, tiba-tiba angan dan harapan terbang kearah itu.
Sebagai mahasiswa baru kita pasti akan bertanya-tanya bagaimana caranya berproses untuk menjadi presiden mahasiswa atau minimal ketua organisasi di intra maupun ektra kampus, Ketua BEM, DPM, HMJ atau setidak-tidaknya menjadi ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tidak akan terlepas dengan proses yang cukup luar biasa. Tidak gampang menjadi pimpinan oragnisasi karena akan banyak situasi dan kondisi dimana kita harus menyikapi persoalan dengan matang, bijak, terukur dan tepat sasaran dan hal tersebut tidak akan pernah didapat jika tidak berproses dengan sungguh-sungguh dan punya keyakinan penuh.
Pada saat selepas ordik dengan tidak sengaja saya langsung berpapas dengan presma (maaf pada saat itu saya masih sangat canggung) saya langsung dengan suara terbata-bata menanyakan, kak kok bisa samean seperti ini? Sontak ia menjawab ; karena saya berproses di organisasi ekstra kampus dek. Saya bingung, pada saat itu dalam benak organisasi ektra kampus itu apa ya? Ia kemudian lanjut menjawab ; organisasi ekstra kampus itu akan kita temui seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan yang lainnya. Ia juga menambahkan bahwa berkat berproses di organisasi ekstra kampus juga menambah wawasan dan keilmuwan yang tidak dipelajari didalam kampus termasuk terkait kepemimpinan, problem solving dan lain sebagainya.
Namun yang paling menyengangkan bercakap-cakap dengan ketua presma itu adalah ketika ia mengakui bahwa ia adalah salah satu kader organisasi ekstra kampus ; saya adalah kader PMII dek, dan berkat PMII saya bisa menjadi ketua BEM dan berani menjadi pemimpin dan cakap dihadapan siapapun. Dengan sikap lugunya saya pada waktu itu, saya ncuma mangut-mangut dengtan penuh tanda Tanya. Apakah benar karena ia masuk disalah satu organisasi ektra kampus hingga membuat dirinya menjadi orang penting dalam kampus?
Sempat saya berfikir, apakah organisasi ekstra kampus sama halnya dengan semacam organisasi partai yang ada dalam tataran kampus? yang masuk dalam organisasi itu akan di didik sedalam mungkin untuk kemudian dipersiapkan menduduki jabatan dalam kampus agar supaya nantinya organisasi tersebut mampu eksis dan bangga karena kadernya mampu meraih apa yang menjadi kepentingannya? Jika itu benar adanya sungguh politis sekali dan praktis sekali.
Namun hal demikian hanya sekedar spekulatif, bagi saya semua organisasi memiliki niatan yang baik (meski kadangkala dilakukan dengan cara yang tidak baik), bagi saya setelah menyelami semuanya meskipun masih amat dangkal dalam menyelaminya. Menjadi kader organisasi ektra kampus manapun memiliki tujuan tersendiri, terkhusus di PMII dengan tujuannya ; terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertawa kepada allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya serta komitmen meperjuangkan cita-cita kemredakaan indoensia. Dengan hal ini secara tersirat dalam hati apakah menjadi kader PMII yang kemudian menjadi pimpinan organisasi apa perlu haus akan jabatan dan memanfaatkan wewanang? Sya katakan dengan tegas tidak!
Berbicara kepemimpinan maka menurut Kartini-kartono adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan. Khususnya kecakapan dan kelebihan dalam suatu bidang, sehigga ia mampu mempengaruhi berbagai manusia untuk bersama-sama melakukan sebuah aktivitas tertentu sesuai dengan tujuan yang telah dicanangkan (Kartini-kartono, 1994:33). Maka secara tidak langsung sebagai pemimpin diperlukan bagaimana ia mampu mempersatukan tiap-tiap orang untuk diajak bekerjasama dengan sautu tujuan tertentu. Namun hal ini bertolak belakang dengan kebanyakan pemimpin yang menjalankan kepemimpinannya saat ini, kebanyakan pemimpin saat ini yang memanfaatkan kepemimpinan demi meraih keuntungan pribadi (dalam konteks organisasi profit), ada juga hanya mampu berjalan sendiri dan cuma orang-orang yang memenangkan dirinya sebagai pemimpin yang diajak bekerja sama.
Maka menjadi pemimpin dalam diri kader PMII memiliki koridor dan ketentuan tersendiri. Menjadi kader PMII harus paham tentang kedalamannya menjadi kader PMII. Maka harus paham apa itu PMII? Sebagai organisasi kaderisasi non profit (kadang ada kegiatan sumbangan sendiri) di PMII kita akan diajarkan bagaiamana menjadi Mahasiswa Ulul Albab dalam artian ; berakal dan berbudi pekerti.
Menjadi kader PMII tidak akan pernah diajarkan hal-hal yang mengambang dan terbang yang kemudian hanya akan menjadi anagan-anagan yang semu, menjadi kader PMII tidak lain dan tidak bukan hanya untuk menimba ilmu yang tidak didapatkan dari yang lainnya, menempa diri, membentuk diri yang akan mencapai kebenaran, kebaikan dan menuju keindahan atau seperti apa yang disebut Mbah Karl Max ; menempu jalan logika, etika dan sampai pada estetika. Maka menjadi pemimpin di PMII pertama akan dibentuk dengan seperti tujuan PMII diatas, terbentuknya pribadi muslism Indonesia ; oleh karena itu sesuai apa yang disampaikan gusdur, harus menjadi manusia muslim yang Indonesia, yang me-Nusantara, cinta akan keberagaman pendapat.
Kemudian berbudi luhur, berilmu dan cakap, maka menjadi pemimpin di PMII apakah perlu mendahalukan wewenang? Jika kita mampu mengedepankan budi dan pemahaman keilmuwan yang nantinya mampu menyampaikannya dengan cakap hingga membuat orang disekitar kita paham dan sadar akan tujuan membawa kedepan yang jauh lebih baik. Dan yang paling penting rasa tanggung jawab dari awal perjalanan dari awal sampai akhir kita mampu istiqomah mengemudi bahtera yang telah kita jalani. Rasa komitmen dalam situasi dan kondisi apapun, meski nantinya persoalan dan permasalahan sering kali bertubi-tubi menyerang dan sebagai kader PMII yang selesai dengan pemahaman aswaja, NDP dan ke-PMII-annya, hal sepelik dan sepekik apapun akan pasti menemukan jawabannya. (*)
*Aktivis PMII Unitri Kota Malang.