SAMPANG, koranmadura.com – Menggunakan tujuh bus dari Rumah Susun (Rusun) Jemundo Sidoarjo menuju Pendapa Trunojoyo Sampang, Kamis, 5 November 2020, rombongan Tajul Muluk dan 274 pengikutnya menjalani ikrar kembali ke ajaran Sunni.
Namun begitu, ratusan eks Syiah Sampang itu
tampaknya masih berharap masih bisa pulang ke kampung halamannya meski diketahuinya masih banyak warga yang enggan menerimanya pulang.
“Kami sih sebetulnya tidak memprioritaskan untuk pulang ke kampung halaman. Yang jadi prioritas bagi kami sebetulnya soal pembaiatan kami,” ujar Tajul Muluk, Jumat, 6 November 2020.
Namun begitu, Tajul Muluk mengungkapkan kerinduannya terhadap suasana yang ada di kampung halamannya. Ia mengaku rindu di saat bersama-sama keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu, dirinya berharap peristiwa yang pernah terjadi sembilan tahun berjalan tersebut, kini sudah selesai dan saling memaafkan.
“kalau masalah rindu, pasti saya rindu sekali. Walaupun sudah berjalan sembilan tahun, saya tetap rindu kampung halaman. Kami rindu kebersamaan dan kerukunan, bisa kumpul dengan keluarga dan masyarakat yang ada di sana,” ungkapnya.
Soal keraguan warga mengenai kembali ke ajaran Sunni, Tajul mengaku tidak mempermasalahkannya. Namun dirinya sangat menyakini jika suatu saat akan terjawab.
“Itu hak mereka (warga), saya hanya menyaur utang kepada Allah. Jadi masalah saya pulang atau tidak bisa pulang, nanti tergantung situasi dan biar pemerintah yang lebih tahu,” paparnya. (MUHLIS/ROS/VEM)