SAMPANG, koranmadura.com – Kembalinya keyakinan eks pimpinan Syiah Sampang Tajul Muluk kepada ajara Aswaja juga mendapat respon dari Rumadi Ahmad, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP).
Rumadi Ahmad mengaku, dirinya yang diminta hadir untuk secara langsung menyaksikan prosesi ikrar Tajul Muluk beserta ratusan pengikutnya di Pendapa Trunojoyo, menyatakan sangat bersyukur.
“Kehadiran kami juga untuk memastikan prosesi ikrar ustad Tajul Muluk ke ajaran Aswaja tidak ada pemaksaan dari siapapun,” ujar Rumadi Ahmad, Jumat, 6 November 2020.
Menurutnya, ikrar yamg dinyatakan Tajul Muluk dikatakannya tidak ada pemaksaan, sebab masih ada beberapa orang yang tidak ikut bersama Ustad Tajul untuk berikrar bersama-sama ke ajaran Aswaja.
“Kalau semisal ada pemikiran atau ada orang yang mencurigai ada pemaksaan, itu sudah terbantahkan dengan sendirinya. Karena faktanya ada beberapa orang yang tidak mengikuti ustad tajul itu tidak apa-apa karena itu pilihan pribadi. Jadi kita harus hormati,” katanya.
Lanjut Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU ini mengungkapkan, yang dilakukan pemerintah daerah Kabupaten Sampang yang telah memfasilitasi para penganut Syiah saat berikrar ke Aswaja merupakan hal yang luar biasa.
“Setelah berikrar, tentu proses kuktural dan membangun silaturahmi antara Ustad Tajul dengan para ulama dan Kiai, itu menjadi sangat penting. Jadi harapan kami, tidak ada lagi orang-orang mempersoalkan status keyakinan ustad Tajul Muluk,” harapannya.
Oleh karena itu, Rumadi Ahmad menyatakan, apabila suatu saat Tajul Muluk dan pengikutnya ingin berkunjung ke Sampang, baik urusan berkunjung ke keluarga maupun urusan takziah, diharapkan dapat diterima dengan baik oleh semua elemen. Sebab saat pembacaan ikrar, para ulama dan Kiai maupun Tajul Muluk sendiri sudah menggambarkan kebesaran jiwanya semua.
“Semisal tidak ada kebesaran jiwa, maka prosesi ikrar itu tidak akan terjadi. Tentu peristiwa itu ada campur tangan yang maha kuasa, sebab kembalinya Ustad Tajul ke Sunni tidak ada orang yang membayangkan sebelumnya. Jadi tidak ada yang dipermalukan, Kiai di Sampang dihormati sedemikian rupa kemudian Tajul serta pengikutnya diterima dengan luar biasa dan itu menjadi catatan dan sejarah penting di Sampang,” katanya.
Ditanya soal keterlibatan pemerintah pusat soal penyelesaian konflik Syiah di Sampang, pihaknya mengaku skenario pemulihan (rekonsiliasi) sudah dilakukan antara KSP dengan Pemprov Jawa Timur dan Pemkab Sampang.
“Semoga cara yang Smooth dan bermartabat menjadi model yang baik ketika menyelesaikan konflik keagamaan di indonesia,” paparnya.
Kemudian nasib mereka setelah berikrar dan keinginannya untuk pulang kampung, lanjut Rumadi mengaku pasti akan dipikirkan langkah-langkah selanjutnya. Seperti pengukuran hak milik tanahnya yang ada di kampung halamannya.
“Memang tidak 100 persen langsung, ya ibaratnya kita membuka pintu untuk proses selanjutnya,” pungkasnya. (MUHLIS/ROS/VEM)