Oleh : Abrari Alzael
Budayawan Madura
Ada tradisi politik yang mengakui kekalahan lewat concession speech dalam pemilu presiden di Amerika. Australia juga begitu. Capres dari Partai Demokrat, Hillary Clinton, dalam karyanya (What Happened, 2017), mengungkapkan dirinya yang tidak pernah menyangka akan kalah dalam pemilu presiden (2016).
Dukungan yang kuat dari warga Amerika saat itu, didukung jajak pendapat sejumlah badan, memperkuat keyakinannya bahwa dirinya akan menjadi perempuan pertama yang memimpin negara adidaya ini. Tetapi setelah TPS-TPS ditutup dan suara yang masuk mulai dihitung, pesaingnya dari Partai Republik, Donald Trump, unggul dari segi perolehan electoral college. Sembilan jam kemudian Hillary Clinton didampingi suaminya, mantan presiden Bill Clinton, menyampaikan pidato kekalahan (9 November 2016).
Tetapi itu di Amerika, dimana mengakui kekalahan merupakan salah satu tradisi politik yang berlaku setelah pesta demokrasi usai. Meski pahit, pihak yang kalah tetap berbesar hati mengakui kekalahan dan menyadari kemenangan lawan. Tak hanya itu, yang kalah berupaya keras menenangkan para pendukung dan bahkan mengajak mereka bekerja sama demi kemajuan negara di masa depan.
Bagaimana dengan Indonesia? Ceritanya juga berbeda karena negeri ini bukan Amerika. Adakalanya, yang kalah merengek, seperti anak-anak yang kalah main gundu. Memang tidak salah melakukan protes, dengan alasannya masing-masing. Sebab, semua tahu merengek adalah hak semua bangsa. Tetapi sebagai ksatria dalam pertarungan, merengek, meskipun hak semua warga, ini adalah konstruk paradoks. Sebab, saat sebelum pemilu dilakukan, para ksatria itu sudah berikrar untuk siap baik pada posisi kalah atau menang. Faktanya, janji politik itu dianggap sebagai momentum; ya hanya di situ, dan pada saat itu saja.
Meski tidak ada concession speech di republik ini, Agus Harimurti Yudhyono (AHY), kader Partai Demokrat, adalah sosok yang memperkenalkan tradisi politik ini. Pada saat AHY kalah dalam pilkada putaran pertama di DKI Jakarta beberapa waktu lalu, pasca hasil penghitungan cepat atau quick count beberapa lembaga survei yang menunjukkan bahwa AHY jauh tertinggal dibanding dua pasangan lainnya, Basuki Tjahaya Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, AHY lantang bersuara sebagai yang nrimo kalah.
Tetapi, itu AHY, di Jakarta, di ibu kota. Lalu bagaimana dengan luar DKI? Para kandidat (terutama yang kalah), ada yang masih belum bisa berdamai dengan takdir politik dari Tuhannya. Di Madura misalnya, pemilukada berpotensi dianggap sebagai lomba kerapan sapi di jaman dulu.
Konon, para pemilik kerapan sapi di era silam enggan dikalahkan oleh rivalitasnya di lapangan pacu. Akibat dari ini, panitia membuat dua versi kemenangan. Pertama, menang di bagian menang. Kedua, menang di bagian kalah. Masalahnya, ini pemilukada, bukan kerapan sapi. Karena yang bertanding di dalamnya para kstaria, bukan pertarungan para sapi. Maka, lihatlah John McCain yang mengakui kekalahannya dari Barack Obama dengan legawa, bukan memandang Jair Bolsonaro, pemenang pilpres Brazil, yang menuduh curang jika ia tidak menang. Bila cara berpikirnya seperti Bolsonaro, nenek saya bilang, itu berbahaya (*)