Oleh : Abrari Alzael
Budayawan Madura
Saya ingin belajar menulis lagi. Setelah sekian lama, semesta narasi ini ditinggalkan karena keadaan. Saya dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi pilot, dalam pesawat yang sedang dibajak. Tetapi saya anggap inilah yang terbaik, di sini, saat ini. Walaupun, sesungguhnya saya ingin lebih dari itu.
Sebagai warga negara, saya mempunyai hak yang sama, memiliki keinginan. Sebagai warga bangsa, saya juga berhak menyanyi. Orang-orang selain saya, sebagai warga negara juga berhak untuk memiliki keinginan, mendengarkan atau tidak mendengarkan keinginan saya. Mereka juga berhak untuk mengindahkan atau tidak mengindahkan walau saya, misalnya, memaksakan diri untuk menyanyi. Karena boleh jadi, bagi mereka, saya tidak sedang menyanyi tetapi menyumbangkan lagu, lagu baik-baik dibuat sumbang (oleh saya).
Setiap warga negara, pada akhirnya, memiliki kehendak dan keinginannya masing-masing. Semua ada aturannya, ada mekanismenya. Ketika ada banyak pihak yang meminta tanggapan saya atas salah satu kubu yang tidak puas dalam hasil pemilukada, saya tak tahu bagaimana harus menanggapi secara politik yang agak elit. Sebab di tanah ini, saya hanya seorang muallaf (politik).
Saya hanya memahami bahwa peristiwa politik itu sudah berlangsung damai. Bahwa mungkin saja ada sedikit kekurangan, itu adalah sesuatu yang wajar sebagai literasi menuju masa depan politik yang lebih bajik. Masalahnya, setiap pikiran tidak sama dan memiliki narasinya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya, saya hormat kepada siapa saja, mungkin teman atau kolega yang tidak merasa nyaman dengan keadaan politik ini.
Keadaan ini, mengingatkan saya pada tiga puluh tahun lalu, dimana saya menjadi saksi dari ponakan saya, yang bermain kelereng dengan temannya. Ponakan saya kalah dalam permainan itu. Lalu dia marah, sebagai anak-anak, lalu mengatakan kepada teman yang mengalahkannya, “Nanti kamu saya laporkan kepada bapak.”.
Nah, memahami politik pemilukada, saya yang sekali lagi sebagai muallaf, mirip dengan fragmentasi anak-anak yang bermain kelereng itu. Dalam logika, saya bertanya kepada diri sendiri, “Apakah kalau ponakan saya menang, lalu dia akan melaporkan teman sepermainan itu kepada bapaknya?”. Jawabannya bisa ya, atau lebih tepatnya (dalam keyakinan saya), tidak!
Politik, memang kadang-kadang seperti sirkuit (kemelut). Sedangkan manusia, bangsa yang sesekali repot seperti puisi Musthofa Bisri, Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana. Inilah fatsunnya, dimana saya jadi ingat masa-masa kuliah saat dosen memberikan matrikulasi pada mata kuliah psikoanalisa. Ada istilah megalomania semacam delusion of grandeur yang dipopulerkan Sigmund Freud; banyak orang lupa pada diri dan zamannya yang telah berubah dan merasa tetap paling benar. Padahal, ini jaman milenial, bukan kolonial. Mereka masih menganggap diri sebagai muda walau sudah renta. Maka sebaiknya, lagu Elpamas itu perlu diputar lagi, Pak Tua, sudahlah. Engkau sudah terlihat lelah. Berdamailah dengan takdirmu, dengan keadaan ini sebagai yang nrimo ing pandum. Saat melihat ke dalam sudah tiba dan sumber air sudah dekat. (*)