BANGKALAN, koranmadura.com – Program studi (Prodi) Magister Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di Kabupaten Bangkalan gelar International Colloquium Forensics Accounting and Governance (ICFAG), Selasa, 1 Desember 2020.
kegiatan yang diselenggarakan pertama kali itu bertujuan memfasilitasi mahasiswa internal atau eksternal UTM yang berkeinginan mempublikasi hasil karya mereka. Mengingat, saat ini persyaratan untuk menyelesaikan program studi strata 2 harus terbit di jurnal.
Koordinator Prodi Magister Akuntansi UTM, Tarjo menyampaikan, dalam kegiatan ICFAG ini juga menghadirkan beberapa narasumber untuk menyampaikan tentang akuntansi forensik yang menjadi fokus dalam Prodi magister akuntasi di UTM
“Karena dalam akuntansi forensik poinnya ada tiga hal, yaitu mencegah, mendeteksi, menginvestigasi suatu kecurangan,” jelas pria dosen Magister Akuntansi UTM.
Beberapa narasumber yang dihadirkan diantaranya Hery Subowo, membahas strategi pencegahan terjadinya fraud; Zuraidah Mohd Sanusi, membahas tentang financial crime yang ada di internasioanl; Emman Marpaung, membahas akuntansi forensik dalam perspektif praktis; dan Nunung Nurul Hidayah, membahas akuntansi forensik dari sisi religiusitas.
“Jadi saling melengkapi, ada dari akademisi, peneliti, praktisi, jadi dapat dikombinasikan,” ucapnya.
Acara ini juga nantinya akan dilanjutkan dengan seleksi hasil karya ilmiah. Setiap peserta diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil tulisan mereka. Kata Tarjo, baik tulisan mereka sudah selesai atau yang masih berupa ide dalam bentuk proposal.
“Dilaksanakan besok (2 Desember 2020) Kurang lebih 50 paper. Nanti setelah persentasi akan ada tanya jawab serta di review oleh reviewer,” ucapnya.
Pihaknya berharap, kegiatan ini dapat membantu bagi mahasiswa magister akuntasi, khususnya di UTM dalam memenuhi kewajiban publikasi paper dalam menyelesaikan program studi mereka. Selain itu, dalam tahap presentasi hasil penelitian nanti menjadikan ajang diskusi, sehingga tulisannya menjadi layak diterbitkan.
“Sehingga tulisannya akan menjadi lebih baik dan layak dimuat di jurnal atau prosiding internasional,” tutupnya. (MAHMUD/ROS/VEM)