SAMPANG, koranmadura.com – Warga di bawah taraf kemiskinan di wilayah Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, terus bermunculan. Hal itu ditandai dengan keberadaan rumah tidak layak huni di sejumlah pedesaan.
Seperti nasib Misduli (55), warga asal Dusun Kamereh Laok, Desa Pandiyangan, Kecamatan Robatal. Buruh tani ini hidup bersama Hayatun (istri) dan kedua anaknya yakni Rizal (5), dan Rofi’ah (2), di rumah tidak layak huni dengan kondisi genting berlumutan dan tembok rumah yang terbuat dari bidik (red, bahasa madura) dan asbes.
“Keseharian jadi kuli garapan sawah milik warga. Ya diongkos Rp 80 ribu,” ujarnya, Selasa, Desember 2020.
Alan Kaisan, salah satu anggota DPRD Sampang, yang menyempatkan singgah di kediaman warga tidak mampu itu menyatakan, kondisi rumah bapak Misduli diakuinya sudah tidak layak huni lagi. Alan menyatakan, kondisi rumah tidak layak huni itu sangat terlihat dari kejauhan, dimana tiang penyangga rumahnya hanya memakai kayu yang diyakininya tidak akan kuat menahan kondisi bangunan yang mulai reyot.
“Setelah tadi saya sempat ngobrol, dia (Misduli) bekerja nguli sawah, cari ongkos upah garapan sawah baik jagung maupun padi, itupun musiman,” tuturnya.
Sedangkan untuk kondisi rumah, Alan sapaan politisi Gerindra asal Kedungdung ini menyatakan, kondisinya sudah tidak layak huni, sebab terlihat dinding bangunan yang terbuat dari bidik yang sudah mulai rapuh dan atap rumah mulai reyot.
“Alas rumahnya bukan semen atau keramik, tapi hanya tanah. Kondisinya memprihatinkan lah, apalagi sekarang musim hujan dan rawan untuk keselamatannya. Kami coba carikan solusi dari swadaya,” akunya khawatir. (MUHLIS/ROS/VEM)