Oleh : Miqdad Husein
Banyak orang belum menyadari betapa dahsyat dampak luka politik identitas. Diluar ketegangan yang pasti muncul karena sikap salin tuding keyakinan, pada tataran jangka panjang akan terbentuk pagar-pagar perbedaan. Masyarakat akan terbelah bukan atas dasar pilihan melainkan keterikatan dan pemahaman keagamaan. Yang terpapar pengelompokan tajam bernuansa keyakinan keagamaan yang telah jadi alat politik.
Ketika di Pilpres dan sebelumnya Pilkada Jakarta, bertebaran opini jika memilih Jokowi, dianggap mendukung kafir dan memilih Prabowo berarti memilih pemimpin Islam. Seakan memilih Jokowi akan masuk neraka dan memilih Prabowo akan dapat tiket surga. Sebuah praktek politik identitas.
Surga dan neraka, jika dijadikan labelisasi, apalagi dibumbui ujaran kafir, sesat, bagi yang berbeda pilihan akan makin mengentalkan perbedaan. Data dan fakta keseharian bisa dengan mudah ditemukan ketika seorang anak mendapat pemahaman keagamaan ekstrim. Si anak bukan hal luar biasa jika kemudian menganggap orangtuanya kafir, sesat. Ini sering terjadi di tengah masyarakat. Dan bisa dibayangkan jika penegasan identitas keagamaan ini dibawa ke wilayah politik, yang sepenuhnya berwajah perebutan kekuasaan.
Pada akhirnya pilihan politik sebatas menjadi ekspresi. Tidak aneh bila usai pemilihan keterbelahan masyarakat tetap berlanjut. Bahkan ketika pilihan yang terpapar telah menyatu, berkoalisi.
Mungkin terasa aneh secara logika politik ketika Jokowi dan Prabowo sudah bersanding ternyata keterbelahan masyarakat masih berlanjut. Demikianlah jejak buram sangat parah dari politik identitas.
Sejatinya di sini Jokowi dan Prabowo sebatas ekspresi permukaan sikap politik. Intinya tetap politik identitas yang telah membentuk skat-skat atau pagar perbedaan. Ironisnya, di negeri ini yang terbelah sama-sama umat Islam atau setidaknya mayoritas ummat Islam. Bukankah pendukung Jokowi mayoritas ummat Islam. Demikian pula pendukung Prabowo. Bahkan ummat lain, yang 13 persen juga terbelah dalam keberpihakan politik, terseret pula oleh politik identitas.
Mungkin menarik mengkaji fenomena Rizieq Shihab sebagai obyek dan representasi politik identitas. Secara rasional siapapun yang berpikir sehat akan sulit menerima perilaku Rizieq dan FPInya. Bagaimana mungkin sumpah serapah, caci makin dan penghinaan dianggap sebagai dakwah Islami. Nurani siapapun sebenarnya akan menolaknya.
Namun ada yang dilupakan. Keberpihakan kepada Rizieq memiliki persambungan dengan jejak-jejek politik identitas. Ketika Prabowo yang sebelumnya menjadi ‘simbol’ atau wayang politik identitas, ketika ternyata telah menjadi bagian dari lawan -berkoalasi- perlu dimunculkan sosok baru. Rizieq di sini secara politik telah menjelma menggantikan ‘pilihan’ bernama Prabowo yang sejak awal hanya jadi sebatas ekspresi sikap politik identitas.
Keterbelahan berlatar agama dalam nuansa kebencian, skat-skat, sebagai jejak politik identitas menjadikan Rizieq sebagai ekspresi baru. Ia mewakili kebencian, keterbelahan produk politik identitas.
Rezieq disukai oleh sebagian masyarakat karena dianggap mewakili kebencian kepada Jokowi – jejak buram politik identitas. Bahwa secara rasional sebenarnya perilaku Rizieq tidak layak diterima akal sehat namun karena mampu menggantikan ekspresi kebencian dan keterbelahan ia dihadirkan walau mungkin sebatas katarsis politik.
Para politisi inferior sayangnya juga kehilangan akal sehat. Mereka memanfaatkan sosok Rizieq sebatas kalkulasi pundi suara.
Jangan bicara moral politik. Yang berlaku bagaimana memanfaatkan kebencian Rizieq dan pengikutnya sebagai amunisi politik untuk syahwat kekuasaan.
Jika suatu saat Rizieq tiba-tiba berubah sikap dengan bergandengan tangan bersama Jokowi, pengikutnya akan buyar meninggalkannya. Lalu akan muncul sosok-sosok citra kebencian baru melanjutkan jejak buram politik identitas.
Betapa berbahaya permainan politik identitas. Apalagi di tengah masyarakat yang masih sibuk menghadapi persoalan ekonomi. Jejak dan luka serta keterbelahan yang ditinggal sulit terhapus. Mudah membara bagai ilalang kering. Hanya membutuhkan sepotong puntung rokok untuk membakarnya.