SUMENEP, koranmadura.com– Dalam rangka meningkatkan kapasitas aparatur desa, Pemerintah Desa Bunpenang, Kecamatan Dungkek, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar pelatihan sistem penyebaran informasi strategis desa, Selasa, 22 Desember 2020.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh aparatur desa, direksi BUMDes dan anggota BPD. Hadir sebagai pemateri ialah Surya Fajar Rasyid, Musbhichatul Choir, dan Plt Camat Dungkek.
Kades Bunpenang, Martono menjelaskan, pelatihan ini tidak lain sebagai upaya pihaknya dalam melahirkan SDM unggul perangkat desa. Untuk itu, kata Totok, sapaan akrabnya, pelatihan ini harus diikuti secara serius dan seksama.
“Ini merupakan momentum bagi para perangkat desa, pengurus BUMDes dan anggota BPD sebagai bekal yang baik manyambut era digital. Sebab ke depan, semuanya serba digital. Baik laparan realisasi kegiatan maupun manajemen keuangan,” katanya.
Totok berharap, dengan kegiatan ini, para aparatur desa semakian maksimal melayani masyarakat. Karena salah satu tugas pokok perangkat desa menjadi pelayan yang baik bagi masyarkat.
Selain itu, Totok juga meminta agar perangkat desa aktif berkantor di Balai Desa. Sebab gajinya sudah setara apatatur sipil negara (ASN) atau PNS.
“Namun yang paling penting selalu berinovasi. Karena kalau stagnan, desa Bunpenang sulit berkembang,” harapnya.
Salah satu narsum, Surya Fajar Rasyid mengawali materi dengan menggerakan ekonomi desa melalui BUMDes. Menurutnya, kini desa-desa dituntut untuk menanfaatkan teknologi guna memperkuat SDM unggul.
“Misalnya desa Bunpenang punya website, maka potensi-potensi desa bisa diangkat untuk dikenalkan ke publik. Termasuk masyarakat Bunpenang bisa mengakses seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh Pemdes,” kata Fajar, sapaan akrabnya.
Fajar melanjutkan, mau tidak mau para aparat dan pengurus BUMdes harus menguasai teknologi. Sebab ke depan, semuanya serba digital.
Untuk menguasai teknologi seperti itu, Fakar menyarakan agar pemerintah desa dan direksi BUMDes dapat merekrut anak-anak desa terbaik.
“Lalu, anak-anak desa yang telah jadi dari berbagai jurusan diminta untuk ikut urun rembuk agar dapat menyumbangkan ilmunya secara profesional. Saya yakin jika begitu, maka Desa Bunpenang akan menyusul Ponggok,” tegas Fajar.
Sementara itu, Plt Camat Dungkek Habibi mengungkapkan pemerintah pusat menggelontorkan anggaran melalui dana desa dengan angka yang sangat besar. Namun dampaknya terhadap pengentasan kemiskinan, belum begitu signifikan.
Kenapa? Karena lemahnya sumber daya manusia (SDM) perangkat desa. Habibi mengatakan, problem dana desa masih seputar salah kelola anggaran.
“Itu semua terjadi karena salah kelola anggaran. Untuk itu, pelatihan yang diisi oleh ahlinya ini harus betul-betul diikuti secara serius,” katanya.
Habibi mengibaratkan seorang dokter, untuk menentukan obat yang tepat bagi pasien harus melakukan diagnosa terlebih dahulu. Sama halnya dengan ini, ketika diagnosa, masalahnya adalah sumber daya manusia yang sumir.
“Masalah terbesarnya adalah sumber daya manusia yang tidak mampu mengelola anggaran. Apalagi hari ini kita dituntut untuk terbiasa dengan teknologi,” jelas Habibi. (*)