BANGKALAN, koranmadura.com – Syaikhona Muhammad Kholil sebentar lagi akan diajukan sebagai pahlawan nasional kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov Jatim) dan pusat. Pangajuan tersebut atas dukungan dari beberapa ulama’ madura, akademisi hingga masyarakat paling bawah.
Dikatahui, Syaikhona Muhammad Kholil merupakan ulama’ besar di Madura yang terkenal di penjuru Nusantara. Selain ‘alim, beliau juga memiliki banyak karamah. Bahkan Kiai kelahiran Bangkalan 25 Mei 1835 tersebut merupakan guru dari pendiri NU, hadratus syaikh Hasyam Asy’ari.
Walaupun sejarah perjalan hidupnya dalam menyalurkan tentang ilmu agama, kenegaraan hingga kebangsaan, namun masyarakat belum mengetahui secara betul ejaan nama dari ulama besar. Lalu ejaan yang mana antara Syaikhona Moh. Cholil atau Muhammad Kholil yang benar?
Berdasarkan penelitian dan kajian dari Tim Turats Al-Ilmi Syaikhona Muhammad Kholil, ejaan tulisan yang benar yaitu “Muhammad Kholil”. Hal itu ditemukan dari hasil tulisan tangan beliau masa hidupnya di manuskrip.
“Bukan Moh. Cholil, tapi Muhammad Kholil. Itu berdasarkan manuskrip yang ditulis tangan oleh beliau sendiri,” kata ketua tim kajian akademik pengusulan gelar kepahlawanan Syaikhona Muhammad Kholil, Muhaimin, Kamis 21 Januari 2021.
Dalam pengajuan nama gelar kepahlawanan nasional juga, tidak ada Kiai Haji (KH) di depan nama Muhammad Kholil. Karena menurut Muhaimin, dengan adanya Syaikhona lebih tinggi dari pada KH.
“Di Indonesia gelar Syaikhona dua, yaitu Muhammad Kholil dan Hasyim Asy’ari. Gelar itu merupakan pengakuan dari masyarakat atas guru para guru” jelasnya.
Dia berharap untuk ke depan, penulisan nama beliau menggunakan Syaikhona Muhammad Kholil, bukan Moh. Cholil. Selain itu dalam pengajuan gelar kepahlawanan dapat lebih lancar.
“Ini sudah fix namanya, ini sudah persetujuan dzurriyah. Maka penulisan selanjutnya menggunakan nama Syaikhona Muhammad Kholil, dan gelar kepahlawanan ini berjalan baik,” tutupnya. (MAHMUD/ROS/VEM)