SUMENEP, koranmadura.com – Komisi III DPRD Kabupaten Sumenep menyebutkan proyek Pompa Air Tanpa Motor (PATM) di Sumber Lembung Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, Madura, Jawa Timur sudah rusak.
“Kami dapat laporan dari warga jika proyek itu sudah rusak,” kata M. Ramzi, Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Sumenep.
Pemerintah Kabupaten Sumenep tahun 2020 melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air membangun PATM di Sumber Lembung Desa Lebeng Barat, Kecamatan Pasongsongan. Data LPSE Kabupaten Sumenep proyek tersebut dibangun menggunakan APBD tingkat II dengan nilai pagu Rp. 4.960.000.000. CV. Sady Family sebagai pemenang tender dengan nilai kontrak sebesar Rp. 4.860.970.000.
Anggaran tersebut salah satunya dipergunakan pembangunan dua bendungan, yakni bendungan satu mempunyai 10 pompa dan bendungan dua sebanyak 7 pompa, dua blustru, dan satu tandon dengan kapasitas 72 ribu liter per detik.
Dengan pembangunan itu, pemerintah daerah meyakini bisa mensuplai kebutuhan air untuk lahan pertanian seluas 106 hektar yang tersebar dibeberapa desa, yakni Desa Lebeng Barat, Lebeng Timur, Prancak, dan Desa Montorna Kecamatan Pasongsongan.
Namun, upaya tersebut tampaknya belum bisa terealisasi karena sebagian alat rusak sebelum difungsikan. Padahal, proyek miliaran itu baru diresmikan oleh Bupati Sumenep A. Busyro Karim pada awal November 2020 lalu.
“Harus diperbaiki, ngapain pemerintah membangun proyek itu hingga miliaran rupiah, jika tidak bisa memberikan manfaat pada masyarakat,” jelas Ramzi.
Hanya saja Politisi Hanura itu tidak menyebutkan kerusakan yang dimaksud. Karena saat hendak mengecek ke lokasi pembangunan terkendala hujan. Sehingga rombongan Komisi III kembali sebelum sampai ke lokasi.
“Rencana kemarin mau ke lokasi, tapi karena hujan tidak sampai dan kembali. Karena dari jalan raya ke lokasi sangat jauh dan harus jalan kaki sekitar 500 meter,” ungkap Ramzi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air, Sunenep Chainur Rasyid membenarkan jika sebagian fasilitas rusak. Namun kerusakan itu bukan terjadi pada bangunan atau tandon, melainkan hanya pipa.
“Karena ada bencana, hujan deras beberapa pipa kenak robohnya pohon kelapa dan bebatuan. Karena saat itu terjadi banjir bandang,” katanya saat dikonfirmasi.
Apalagi kata dia, dipinggir sungai saat ini tidak ada penahan tanah sehingga mudah roboh saat kondisi air sungai sudah besar. Apalagi, sungai tersebut merupakan muara dari tiga sungai dan posisi pompa berada di posisi tengah aliran sungai. “Struktur tanah disana juga mudah ambruk,” ungkapnya.
Namun, kata dia saat ini kerusakan mulai diperbaiki oleh rekanan. Sehingga pada musim kemarau tiba segera bisa difungsikan kembali. “Saat ini dalam proses perbaikan,” jelas mantan Kabag Umum itu. (JUNAIDI/ROS/VEM)