Oleh: Miqdad Husein*
Membandingkan dua Ormas Islam terbesar di negeri ini, NU dan Muhammadiyah dengan FPI jelas sebuah kekeliruan besar. Apalagi jika diikuti sinisme seakan dua Ormas itu bersikap elitis, sementara FPI dianggap merakyat.
Adalah komedian Pandji Pragiwaksono yang memberikan komentar bernada sinis. Ia mengaku mengutip pendapat sosiolog Thamrin Tamagola, beberapa tahun lalu yang ternyata dibantahnya dan menyebut Pandji melakukan kekeliruan.
Tentu saja membandingkan NU dan Muhammadiyah dengan FPI terlalu jauh. Kiprah dua Ormas Islam itu, jika dibandingkan dengan FPI terlalu amat sangat jauh; ibarat langit dan dasar sumur. Sangat jauh dari sisi apapun.
Dari nawaitu keberadaan saja jelas perbedaannya. NU dan Muhammadiyah sejak awal berdiri bertujuan dakwah membebaskan umat Islam dari keterbelakangan. Sementara FPI tujuan berdiri sarat kepentingan terkait kekuasaan, terutama di awal reformasi. FPI tak lebih dari sekedar attack dog, untuk masuk pada kasus-kasus temporer di tengah masyarakat. Jadi niatnya saja kepentingan instan.
Bahwa dalam perjalanan FPI kadang terjun membantu segelintir orang, itu tak lebih lintasan kepedulian sesaat. Memang ada dan diakui aktivitas FPI seperti turun membantu penanganan bencana.
Tentu saja aktivitas FPI yang terlihat membantu musibah bencana tidak serta merta layak diperbandingkan dengan NU dan Muhammadiyah. Apalagi diasumsikan hanya FPI yang turun jika ada bencana. Lebih parah lagi ketika aktivitas sosial itu kemudian mau dijadikan pembenaran dan pembelaan tindakan brutal dan pelanggaran hukum FPI. “FPI kan banyak terjun membantu bencana. Selalu hadir pada setiap bencana. Mengapa dibubarkan,” demikian antara lain pembelaan mereka.
NU dan Muhammadiyah serta Ormas lainnya, siapapun mengetahui selalu terdepan terjun membantu pada setiap bencana. Kiprah besar Ormas Islam dan lainnya itu tidak lantas membuat arogan serta membusungkan dada apalagi sampai menjadikan pembenaran untuk melabrak rambu hukum seperti dilakukan FPI.
Soal bencana, penting dipaparkan terbuka karena sering jadi pembenaran sepak terjang dan seakan nilai penting keberadaan FPI di negeri ini. Padahal Ormas Islam dan lainnya bahkan lebih terdepan pada setiap musibah. Dan hanya FPI lah yang memberi ‘bonus’ berbagai tindakan pelanggaran hukum, membuat kegaduhan, tindak kekerasan dan lainnya.
Bagaimana perbandingan aktivitas NU dan Muhammadiyah dengan FPI di tengah masyarakat negeri ini? Terlalu jauh dari proporsional. Aktivitas dua Ormas Islam itu demikian dasyat kiprahnya di negeri ini bahkan hanya bisa diimbangi pemerintah.
Data berikut sekedar contoh. NU memiliki 6.000 lembaga pendidikan dan lebih dari 20 ribu pesantren serta sekitar 50 rumah sakit. Belum terhitung lembaga sosial seperti Panti Asuhan. Muhammadiyah memiliki 10.381 lembaga pendidikan. Terdiri dari TK, SD, SMP, SMA, pondok pesantren, dan perguruan tinggi. Untuk TK atau PTQ berjumlah 4.623; SD/MI 2.604; SMP/MTS 1772; SMA/sMK/MA 1143; Ponpes 67; dan perguruan tinggi 172 serta 400 rumah sakit.
Deretan data itu belum seluruhnya. Dan semua aktivitas lembaga praktis nirlaba alias bukan untuk mencari keuntungan. Waraskah bila ada yang membandingkan NU dan Muhammadiyah dengan FPI? Apalagi sinis seakan dua Ormas Islam itu elitis? (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.