Oleh : Badrul Aini, S. Kep, Nes (*)
Usai sudah masa jabatan A Busyro Karim sebagai Bupati Sumenep setelah dua priode menjadi orang nomor satu di Kabupaten ujung timur Pulau Madura. Sudah pasti penggantinya adalah Ahmad Fauzi, sesuai hasil pilihan rakyat melalui Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) 2020 lalu. Tinggal menunggu waktu pelantikan, politisi muda ini secara resmi akan menjadi Kepala Daerah di Sumenep hingga 2024 mendatang.
Tentu bulan dan tahun ini, adalah momen bersejarah. Bukan hanya bagi Fauzi yang akan naik menjadi orang wahid di Bumi Sumekar, tapi pula bagi 1 juta jiwa lebih warga yang tinggal di Sumenep. Banyak harapan dari masyarakat yang digantungkan pada sosok Fauzi. Sebagai Bupati baru, diyakini akan memberi harapan baru untuk Sumenep yang lebih maju.
Memang bukan perkara mudah membangun Kabupaten Sumenep dengan aneka ragam tantangan dan kendalanya, terutama kondisi geografis. Tapi, saya termasuk orang yang optimis dan memiliki keyakinan Sumenep kedepan akan menjadi daerah yang dibanggakan, lebih maju, dan mampu bersaing dengan daerah lain di tangan Fauzi.
Keyakinan itu bukan karena di Pilkada lalu saya menjadi bagian dari proses pemenanganya, tapi memang karena sosok yang dimiliki Fauzi menumbuhkan banyak harapan sebagian besar masyarakat Sumenep. Selain muda, Ia adalah pemimpin cerdas, berwasasan luas, dan visioner. Kemudian, pengalamannya di Pemerintahan selama menjadi Wakil Bupati periode sebelumnya tentu akan menjadi bekal baginya dalam menangani masalah pembangunan selama ini.
Terlebih, komitmen dan dedikasinya dalam membangun Sumenep sudah teruji selama lima tahun terakhir, ketika menjadi Wabup. Masih segar dalam ingatan, ketika lima tahun lalu, tepatnya tiga bulan Fauzi dilantik menjadi Wabup mengajak saya mengelilingi pulau dengan perahu tradisional. Selama tiga hari tiga malam saat itu, tidak tidur di rumah, melainkan di perahu menjelajahi Pulau-Pulau jauh dan kecil sambil berbagi mimpi dan cita-cita bahwa kedepan Sumenep harus lebih baik di masa-masa yang akan datang.
Fauzi memang pemimpin baru Sumenep. Tapi, baginya tidak perlu lagi belajar untuk memahami keadaan dan masalah serta tantangan yang dihadapi daerahnya. Ia adalah sosok yang sudah siap kerja dan sadar bahwa pembangunan Sumenep harus dilakukan dengan cara seperti makan bubur panas, dimulai dari pinggir atau terpencil, kemudian meluas ke bagian tengah.
Sampai saat ini, disparitas antara daratan dan kepulauan masih terasa. Keluhan soal buruknya infrastruktur di Kepulauan masih mengemuka, transportasi laut di Kepulauan belum memadai, kualitas pelayanan kesehatan, mutu pendidikan, dan pelayanan publik lainnya masih belum sesuai harapan.
Bahkan, hingga sekarang, warga Kepulauan belum dapat menikmati satu harga bahan bakar minyak (BBM) di semua wilayah yang dicanangkan Pemerintah. Harga BBM solar dalam kondisi normal masih Rp 10 ribu per liter, kemudian es batangan untuk kebutuhan nelayan yang biasanya Rp 10 ribu per batang, justru mencapai Rp 25 ribu. Belum lagi, harga kebutuhan pokok lainnya yang cukup melambung tinggi.
Kondisi tersebut jelas sangat berdampak terhadap tingkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Kepulauan terutama nelayan. Kedepan, perlu pembenahan dari hulu dengan melakukan stabilitas harga terhadap sejumlah kebutuhan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan biaya produksi atau operasionalnya seperti BBM, Es, Listrik, dan lainnya.
Ketika permasalahan di hulu selesai dibenahi, baru kemudian mempersiapkan hilirnya yang berkaitan dengan kepentingan nelayan misalnya membangun ICS (Integrated Cold Storage) untuk menampung hasil tangkapan nelayan. Potensi perikanan Sumenep khususnya perairan Kepulauan cukup luar biasa, namun sejauh ini belum terkelola dengan baik. Banyak ikan hasil tangkapan nelayan Kepulauan Sumenep yang dikirim ke luar negeri, namun tidak melalui daerah sendiri melainkan pada pengusaha-pengusaha atau eksportir di Bali.
Praktis, potensi daerah khususnya perikanan itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan di daerah. Kedepan, Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Fauzi hendaknya memperhatikan masalah tersebut. Melakukan terobosan agar industri perikanan di Kepulauan terkelola dengan baik, bukan menjadi daerah penyuplai ikan dalam bentuk mentahnya saja.
Kemudian, sektor pertanian di daerah ini juga cukup menjanjikan. Sumenep merupakan daerah agraris dengan areal pertaniannya yang cukup luas. Beberapa Kecamatan menjadi lumbung pangan, bahkan terbesar adalah Arjasa Pulau Kangean karena lahan pertaniannya yang cukup luas.
Namun, seperti di sektor lainnya, potensi pertanian itu tidak memberi efek yang berarti terhadap kesejahteraan dan perekonomian petani. Bagi mereka, bertani bukanlah pekerjaan yang menjanjikan, sebab hasil panen terkadang tidak sesuai dengan biaya tanam yang dikeluarkan. Petani kurang berdaya dan umumnya masih berada di kelas ekonomi menangah ke bawah. Ini, bertolak belakang dengan label agraris yang dimiliki Sumenep.
Problemnya sangat kompleks. Maka kedepan, Pemerintah disegala level terutama di daerah harus memperhatikan aneka kebutuhan petani untuk memastikan biaya produksinya dapat terjangkau. Selain memastikan pupuk bersubsidi yang tepat sasaran, petani harus diberdayakan melalui sentuhan bantuan, misalnya alat pertanian dan pelatihan termasuk infrastruktur pertanian.
Tak kalah penting untuk mengoptimalkan potensi pertanian dan meningkatkan perekonomian petani, Pemerintah daerah perlu menfasilitasi hasil produksi petani menjadi produksi unggul. Kedepan, perlu upaya dari Pemkab membangun usaha untuk menampung hasil panen petani, yang kemudian mengemasnya menjadi produk unggulan untuk dipasarkan dengan skala nasional.
Kualitas gabah atau padi hasil petani Sumenep cukup bagus. Bahkan, kalau dikelola dan dikemas dengan baik, diyakini akan mampu bersaing dengan merk-merk lain. Jika ini mampu dilakukan, kedepan pertanian akan menjadi ladang pekerjaan yang menjanjikan dan menguntungkan terutama bagi petani.
Kemudian, sektor pariwisata yang dimiliki Kabupaten Sumenep juga sangat potensial. Sumenep memiliki objek wisata kesehatan Pulau Giliyang, Kecamatan Dungkek. Kadar oksigen yang dimiliki Pulau tersebut tidak ada duanya di Indonesia. Hingga saat ini, kadar oksigen di Pulau Giliyang berdasarkan penelitian LAPAN dan Kementerian Kesehatan menduduki peringkat terbaik kedua di dunia setelah Yordania.
Bukan maksud mengesampingkan objek wisata lainnya seperti keraton, pantai, dan religi yang dimiliki Sumenep. Tapi, objek wisata kesehatan Pulau Giliyang lebih layak untuk dijual baik ke tingkat nasional maupun internasional. Destinasi wisata kesehatan pulau Giliyang berpeluang menjadi objek wisata kesehatan berkelas dunia jika dapat dikelola secara maksimal.
Penting dan wajib pula dilakukan kedepan yaitu merubah mindset birokrasi. Pola pikir Kepala Dinas terutama yang membidangi masalah ekonomi harus dirubah, jangan sampai kegiatan yang diprogramkan di instansinya berorientasi pada keuntungan dan kepentingan pribadi. Kepala Dinas sebagai pembantu Bupati harus benar-benar memiliki kemampuan dibidangnya dan berdedikasi serta memiliki semangat untuk mengabdi dan membawa Sumenep ke arah yang lebih baik.
Terakhir, mengawali pelantikan, saya ingin mengucapkan Selamat untuk Sahabat saya Ahmad Fauzi menjadi Bupati Sumenep 2021-2024, Salam Sehe Sabettane. (*)
*Politisi PBB asal Dapil Kepulauan.