PAMEKASAN, koranmadura.com – Petinggi Partai Politik (Parpol Koalisi) Baddrut Tamam-Rajae (Berbaur) menemui Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pamekasan, Madur, Jawa Timur, Fathor Rahman, disebut bentuk kepanikan.
Mereka was-was ambisinya untuk mencalonkan pengganti alm Wabup Rajae gagal berentakan jika pproses awal pergantian Wabup tak kunjung dilakukan , mereka pun mendesak DPRD Pamekasan segera menggelar sidang paripurna pemberhentian alm Wabup Rajae.
Parpol yang disebut mulai panik adalah PKS, Gerindra dan PAN, sementara PKB bersikap santai karena memiliki posisi Bupati.
Kepanikan Parpol tidak lepas dari munculnya poros pantura yang memunculkan nama istri alm Rajae, Yuni Lailatul Fitriyah, dan Sekda Pamekasan Totok Hartono.
Mantan Ketua Gerindra Pamekasan, Agus Sujarwadi mengatkan, cara Parpol menemuai Ketua DPRD Pamekasan, soalah mereka mendesak pemberhentian alm Rajae dari posisi Wabup.
Petinggi Porpol sengaja mendesak untuk mengejar kepentingan mereka, yakni merekomendasikan dua nama calon Wabup. “Memang mereka berperan penting dalam proses penentuan calon melalui rekomendasi, saya melihatnnya mereka panik setelah mencium ada gerakan dari poros luar Parpol kolisi, makanya mereka meminta jawaban pasti pemberhentian alm Rajae,” kata Agus Sujarwadi.
Poros Pantura Dekati Tokoh Ulama
Sumber internal koranmadura.com, menyebutkan bahwa, poros pantura mulai mendakati tokoh-tokoh ulama di Pamekasan, mereka membawa misi yang tidak sejauh berbeda dengan Parpol
koalisi.
“Kemungkinan mereka juga akan mendekati Parpol koalisi maupun oposisi. Ya dengan kata lain mereka membangun kekuatan sekaligus mencari kendaraan politik untuk membobol ambisi Parpol koalisi,’ tutur sumber dari kalangan politikus Pamekasan itu.
Bukan tidak mungkin poros pantura memanangkan perebutan kuris Wabup Pamekaan, tokoh-tokoh berpengaruh di pantura memiliki kedekatan yang cukup kental, baik dengan Bupati Pamekasan, Parpol, maupun dengan toko ulama di wilayah itu.
Kendati itu, bisa saja figur dari poros pantura dapat tiket dari salah satu Parpol koalisi melalui pendakatan yang mereke bangun. Apalagi sebagian Parpol koalisi membuka peluang mencalonkan tokoh di luar Parpol.
Peluang emas tersebut tidak mungkin dibuang begitu saja oleh poros pantura untuk memuluskan ambisi mereka.
“Yang memilih Wabup itu kan bukan Parpol, tapi 45 anggta dewan di Pamekasan. Nah, peluang ini yang dikejar poros pantura, Parpol koalisi hanya merekemendasi calon yang bisa saja ditolak oleh anggota dewan,”terangnya.
Parpol Kaolisi Tak Dikehendaki Baddrut Tamam
Parpol kolisi Berbaur pada Pilkada 2018, terkesan tidak dikehendaki oleh Bupati Baddrut Tamam diawal kepemimpinnya. Ra Baddrut menyebut tidak ada Parpol koalisi, yang ada koalisi rakyat.
Kemudian, statemen politikus PKB diserang abis-abisan oleh Parpol koalisi karena dinilai tidak menghargai perjuangan Parpol yang memenangkan kontestasi Pilkada.
Waktu itu Bupati lebih memilih tidak meladani serangan Parpol koalisi sekalipun statemen koalisi rakyat muncul darinya.
Agus menilai, munculnya koalisi rakyat akhir-akhir ini kerena resah dengan sikap Parpol yang terkesan sengaja memproses cepat proses pergantian Wabup pada saat situasi berduka.
Berberda dengan Poros Pantura yang ingin memperthankan koalisi ‘Laok-Daja’ atau Selatan-Utara, makanya memunculkan nama Lailatul Fitriyah.
“Polemik koalisi rakyat bisa saja terjadi tahun ini untuk merongrong Parpol koalisi,”beber Agus. (RIDWAN/ROS/VEM)