BANGKALAN, koranmadura.com – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Bangkalan, Madura, masih rendah. Tercatat hingga saat ini kota salak menduduki peringkat ke 37 dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur, alias nomor dua dari bawah setelah Sampang.
Hal itu berdasarkan rilis Badang Pusat Statistik Kabupaten Bangkalan yang dikeluarkan pada tahun 2020. Sebelum atau sesudah bupati dan wakil bupati, Abdul Latif Amin Imron dan Mohni dilantik pada tahun 2018, IPM masih tetap nomor dua dari bawah setelah Sampang.
Tercatat pada tahun 2016 IPM Bangkalan mencapai 62,06; tahun 2017 masih 62,30; lalu tahun 2018 tercatat 62,87 dan pada tahun 2019 mencapai 63,79. Walaupun ada kenaikan setiap tahun, peringkat di provinsi masih stagnan ke 37 dari 38 kabupaten dan kota.
Kondisi kabupaten Bangkalan menjadi sorotan oleh anggota DPR RI Daerah Pilihan (Dapil) Madura, Syafiudin Asmoro, pada saat menghadiri acara diskusi publik tetang “Apa Kabar Bangkalan Sejahtera?”, Kamis 4 Maret 2021 di gedung PKP RI.
Menurutnya, perbaikan IPM di suatu kabupaten atau kota tidak terlepas dari ikut serta pemerintahan di tingkat desa. Sehingga, pembangunan infrastruktur, ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan harus benar-benar tersentuh ke desa.
“Kami akan mendorong bupati Bangkalan agar pembangunan tidak terpusat di kota saja, tapi ke desa,” katanya.
Selain itu, pendidikan tingkat agama juga belum masuk menjadi variabel skoring dalam penghitungan IPM. Padahal, di Bangkalan juga banyak anak-anak yang masuk mengenyam ilmu pendidikan di lembaga agama.
“Jika variabel sekolah agama juga menjadi perhatian BPS, kami yakin IPM akan naik,” katanya.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), putra daerah Bangkalan itu mengajak semua masyarakat, untuk bersama-sama membangungan kota salak meningkatkan IPM. Salah satunya, memperhatikan pendidikan generasi selanjutnya dan hidup sehat.
“Song Osong Lombung, saling bahu membahu membangun Bangkalan,” katanya. (MAHMUD/ROS/VEM)