Oleh : Miqdad Husein
India menghadapi tsunami dasyat penyebaran Corona. Rekor jumlah terinfeksi terus meningkat. Seluruh rumah sakit mengalami kondisi sangat kesulitan. Akhir pekan kemarin angka mencapai sekitar 349 ribu lebih dalam sehari. Sebuah jumlah jauh melampaui penyebaran tertinggi di Amerika Serikat.
Kegiatan keagamaan festival Kumbh Mela disebut-sebut sebagai salah satu penyebab peningkatan penyebaran Corona. Event politik yang sedang berlangsung juga disebut memiliki andil. Walhasil India kini sedang berada dalam kesulitan luar biasa sehingga memerlukan uluran tangan dunia.
Acara keagamaan, agaknya menjadi titik masuk paling berbahaya dalam penyebaran Covid. Korea memiliki pengalaman pahit ketika misa di gereja, menjadi pemantik Covid karena beberapa jamaah ternyata dari awal sudah terinfeksi.
Momen keagamaan seperti Kumbh Mela dan sangat mungkin event keagamaan lain –termasuk event agama Islam dan lainnya- berpotensi menjadi cluster besar Covid. Ini tak lepas dari perilaku beragama, yang kadang terperangkap pemahaman salah kaprah tentang kepasrahan.
Harus diakui, masih saja mudah ditemukan penganut agama apapun yang cenderung irrasional untuk hal-hal bersifat sosial, realitas riil, seperti terhadap persoalan kesehatan. Mereka bersandar pada prinsip tawakkal salah kaprah. Tidak merasa perlu mentaati protokol kesehatan misalnya dengan alasan tawakkal kepada Allah.
Karena melaksakan ritual keagamaan merasa yakin Tuhan langsung memberikan perlindungan keselamatan sehingga tanpa merasa perlu melakukan ikhtiar. Jangan bicara masker, jaga jarak dan cuci tangan dalam kasus Covid-19. Prokes tiga M itu dibuang jauh dan hanya mengandalkan keyakinan bahwa semua akan aman karena sedang beribadah kepada Tuhan.
Inilah fenomena pemahaman keagamaan, yang masih mudah ditemui di berbagai agama di manapun. Sebuah pemahaman yang paling tidak –dari pandangan agama Islam yang penulis pahami- memperlihatkan penyederhanaan pemahaman. Atau sangat mungkin, salah kaprah seakan manusia tidak perlu ikhtiar, berusaha dalam konteks sosial.
Benar bahwa kejadian apapun dalam hidup ini, tak ada yang lepas dari ketentuan Tuhan. Tetapi kepastian terjadi ketentuan tetap baru terwujud atau tidak, tergantung ikhtiar manusia.
Cerita seorang Badui yang bertemu Rasulullah dapat menjadi gambaran menarik tentang pengertian tawakkal, berserah diri kepada Allah. Rasulullah mengingatkan kepada si Badui itu agar ontanya diikat dulu di pohon baru bertawakkal kepada Allah. Jadi, ikhtiar dulu baru tawakkal.
Khalifah Umar bin Chattab ketika akan berkunjung ke Syam sempat dicegah di perbatasan. Beliau diberitahu tentang adanya wabah di daerah yang akan dikunjunginya. Lalu, apakah terus melanjutkan atas dasar tawakkal? Khalifah Umar justru membatalkan kunjungan menghindari wabah.
Inilah prinsip keagamaan yang seharusnya menjadi pegangan ketika melaksanakan peribadatan. Ketika suasana seperti sekarang dan sedang ada upaya pemutusan pandemi setidaknya pengurangan penyebaran kegiatan apapun perlu dilakukan dengan Prokes. Prinsip itu tak boleh ditinggalkan dalam aktivitas apapun, termasuk dalam peribadatan.
Keyakinan spiritual di sini tidak dipertentangan dengan ilmu pengetahuan. Kesadaran keimanan dalam peribadatan tetap mematuhi prinsip-prinsip kesehatan, hasil dari kajian ilmu pengetahuan.
Dalam Islam peribadatan apapun tetap menjaga kepentingan keselamatan jiwa manusia. Berpuasa tak boleh dipaksakan ketika sedang sakit. Sholat lebih baik di rumah jika ternyata suasana di masjid membayakan keselamatan.
Dunia Islam jauh hari telah memutuskan bagaimana beribadah di masa pandemi. Semua harus mematuhi prinsip-prinsip ilmiah tanpa mengurangi subtansi tujuan peribadatan. Keselamatan jiwa manuia tetap mutlak diutamakan
Jika dipahami dan dilaksanakan dengan benar agama bisa menjadi energi luar bisa dalam berperan memutus pandemi Covid. Namun sebaliknya bisa menjadi pemantik penyebaran, tsunami, jika dipahami salah dan dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan.