Oleh: MH. Said Abdullah
Di tengah semarak pemakaian ponsel terutama kalangan remaja dan anak-anak, rasanya perlu seluruh lapisan masyarakat terutama kalangan ummat untuk ‘jeda” sejenak. Perlu merenung mencermati, mengamati dampak sosialnya. Bagaimanapun sangat disadari ketergantungan ponsel saat ini sangat luar biasa. Seakan tanpa ponsel hidup kurang lengkap. Sebuah gambaran betapa besar pengaruh alat komunikasi itu.
Jika dipergunakan secara produktif, tepat guna serta tepat sasaran, semarak penggunaan ponsel sebenarnya tidak ada masalah. Misalnya, untuk kepentingan bisnis, atau di masa pandemi dipergunakan untuk fasilitas belajar ‘daring,’ menggunakan jaringan karena pandemi sekolah tatap muka belum dibolehkan.
Masalahnya, terutama di kalangan remaja dan anak-anak terlihat kecenderungan ‘kebablasan’ dalam penggunaan ponsel. Tidak dapat mengatur waktu, salah penggunaan hanya untuk bermain game atau sekedar berselancar santai di berbagai jaringan dunia maya.
Dengan kondisi ketergantungan berlebihan terhadap ponsel, bukan hal luar biasa bila moralitas dan mental generasi mendatang, mengalami degradasi. Nilai-nilai agama, budaya, kebersamaan, persaudaraan yang telah menjadi watak dan karakter masyarakat Indonesia akan mudah pupus atau menguap. Ini jelas berbahaya.
Di moment ramadan ini, perlu dikampanyekan gerakan kembali ke musala. Kembali mengajak anak-anak dan remaja untuk meramaikan musala, mengurangi aktivitas berlebihan dalam bermain ponsel. Paling tidak, saat Magrib sampai Isya, anak dikondisikan, diajak kembali ke musala.
Ini penting sekali untuk menanamkan iman dan disiplin sejak dini, terutama shalat lima waktu. Termasuk pula belajar agama serta yang tak kalah penting, membiasakan anak-anak berinteraksi secara sosial langsung. Tidak menyendiri bermain ponsel.
Ajakan dan himbauan serta kalau perlu dijadikan kampanye nasional kembali ke musala bukan tanpa dasar. Generasi tua sekarang saja yang dulu rajin ke musala terkadang masih suka abai pada shalat. Apalagi yang pada saat maghrib justru asyik nongkrong dan main game online. Tidak terbiasa ke musala atau ke masjid.
Di masa lalu, ketika matahari terbenam dan adzan berkumandang, anak-anak berangkat ke musala. Gelap dan sepi merambat di teras rumah. Di mushalla, lampu minyak berkerlip riang. Suara imam mengalun syahdu di antara para jamaah shalat.
Sesuai shalat berjamaah, suara anak-anak kecil belajar mengaji terdengar seperti ricik air. Sesekali suara mereka menghentak, melafalkan rukun-rukun Islam, rukun-rukun Iman. Nama-nama para nabi menggema hingga ke luar musala.
Suasana indah itu perlu dibangkitkan kembali untuk menanamkan nilai-nilai Islam sedini mungkin, agar generasi mendatang memiliki bekal moral mumpuni. Mampu menjawab tantangan masa depan dengan basis moral agama yang baik, yang mampu menebar nilai indah kemanusiaan, persaudaraan dan perdamaian.
Ada tiga kegiatan yang penting untuk kembali menyemarakkan musala. Pertama, memberikan insentif bulanan bagi ratusan guru ngaji khususnya. Insentif tersebut diberikan secara langsung melalui Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Kedua, perlu dibentuk Kelompok Usaha Bersama (KUBE) di kalangan para guru ngaji di setiap kecamatan. Kegiatan ini, sedang diterapkan di Kabupaten Sumenep, yang diharapkan diikuti kabupaten lain di seluruh Indonesia.
Beberapa hari lalu, telah dicoba diluncurkan di Kecamatan Bluto dalam bentuk kongkrit penyaluran 20 ekor kambing sebagai modal usaha bersama bagi para guru ngaji. Ini langkah awal, yang in syaa Allah, dalam waktu dekat akan dibentuk di kecamatan-kecamatan lain secara bergiliran di seluruh Sumenep.
Dalam bulan puasa ini, diupayakan untuk membagi ribuan takjil untuk masyarakat melalui guru ngaji. Dengan kegiatan ini, diharapkan terjalin komunikasi intensif antara guru ngaji dan orang tua dalam mendidik anak-anaknya di musala.
Tentu tidak kalah penting, persiapan peningkatan kualitas guru ngaji agar mampu memahami persoalan kekinian. Termasuk bagaimana mereka nantinya dapat memberikan pemahaman keagamaan keislaman, yang rahmatan lil alamin, yang mencintai kedamaian dan persaudaraan hingga mampu menjaga keutuhan negeri ini.
Gerakan kembali ke musala mendesak segera dilaksanakan di negeri ini agar relung-relung ruhani generasi mendatang, memiliki fondasi keagamaan, Islam tertanam sedini mungkin sebagai bekal dalam menghadapi masa depan.