SAMPANG, koranmadura.com – Akhir-akhir ini bencana alam seringkali terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, terlebih bencana gempa bumi. Hal itu membuat Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jatim, menggelar Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) penanganan bencana gempa dan pasca gempa.
“Ini untuk menyikapi kondisi peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini seperti terjadi gempa di dua titik di wilayah Jawa Timur, di antaranya di wilayah Malang selatan dan Blitar. Kita pelajari penanganan gempa kemarin. Dan apa yang kurang, nanti kami tindaklanjuti. Kemudian pula nanti kita berikan rekomendasi kepada pemerintah dan relawan,” jelas Sekjen FPRB Jawa Timur, Catur Sudharmanto kepada koranmadura.com, Senin, 24 Mei 2021.
Menurut Mbah Dharmo sapaan akrab Catur Sudharmanto menyatakan, di wilayah Jawa Timur, khususnya di wilayah selatan seringkali terjadi gempa, namun dengan kekuatan skala kecil. Bahkan menurutnya, pergerakan lempeng bumi di wilayah Jawa Timur masih bergerak aktif hingga saat ini.
“Yang skala besar ya baru-baru ini seperti di wilayah Malang Selatan dan Blitar. Makanya dari kejadian gempa kemarin diharapkan proses penanganannya bisa dipelajari. Semisal ada bencana gempa lagi, kita maupun masyarakat bisa lebih siap,” harapnya.
Pihaknya juga memberikan saran dan masukan terhadap warga dan relawan asal pulau Madura, berkenaan bencana gempa. Menurutnya, Pulau Madura, yang juga menjadi bagian wilayah Jawa Timur, juga tidak menutupkemungkinan akan merasakan getaran atau bahkan mengalami gempa secara langsung, mengingat letak madura yang juga memiliki pantai.
“Maka yang sebenarnya, yang perlu kita bangun yaitu kesiapsiagaan masyarakatnya yakni masyarakat harus paham bagaimana dan apa yang harus dilakukan di saat ada gempa. Apalagi masyarakat yang lokasinya dekat pantai yaitu 20, 20 dan 20. Artinya jika terjadi gempa kurang lebih 20 detik, maka ada waktu 20 menit menyelamatkan diri yakni mencari tempat ketinggian 20 meter. Kalau tidak ada, lari sejauh-sejauhnya 20 menit menghindari bibir pantai,” paparnya.
Sementara Ketua Forum PRB Kabupaten Sampang, Moh Hasan Jailani mengaku berterimaksih kepada Forum PRB Jatim yang terus selalu mengingatkan mengenai kewaspadaan terhadap potensi-potensi semua kebencanaan untuk wilayah Madura, terlebih kebencanaan gempa yang akhir-akhir ini sering terjadi di Indonesi dan di Jawa Timur, dalam akhir-akhir ini.
“FPRB Sampang senantiasa akan terus berupaya mengingatkan apa yang perlu dilakukan seblum bencana terjadi (pra bencana) baik bencana banjir, gempa maupun longsor dengan melibatkan semua stakeholders atau pemerintah setempat. Nanti kami usulkan mengenai simulasi bencana kepada pemerintah daerah, terlebih ketika di malam hari,” ujarnya.
Terisah, Ketua tim Koordinasi Pentahelik Deputi Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI Pangarso Suryotomo mengajak desk relawan Pengurangan Bencana (PB) agar komunikasi dan koordinasi dimanfaatkan dengan baik.
“Ini mandat berdasarkan undang-undang dan PP yang jelas. Dan Desk ini juga jelas. Dan bagaimana teman-teman desk relawan kebencanaan yang dimotori FPRB, mengondisikan relawan yang bergerak di Jawa Timur,” katanya.
Menurut Pak Papang sapaa akrab Pangarso Suryotomo, FPRB selain sebagai katalisator atau penyeimbang juga menjadikan desk relawan PB sebagai pusat informasi para relawan untuk melakukan pergerakan.
“Artinya para relawan akan tahu akan bergerak kemana. Dan teman-teman relawan yang di lokasi akan melaporkan ke desk relawan tentang kondisi dan fakta di bawah, sehingga suplai kebutuhan bisa terakomodir dengan baik. Nah dalam rakornis yang digelar, FPRB Jatim bisa membangun kekuatan baru yang dikembangkan untuk pengurangan risiko bencana agar bisa dijalankan dengan baik,” jelasnya. MUHLIS/ROS/VEM