Oleh: Miqdad Husein (*)
Banyak perbicangan di grup-grup WhatsApp, media sosial, bahkan disinggung pula di media mainstream tentang Piala Eropa, yang jauh dari kelaziman. Bukan soal kekuatan tim dan peluang menjadi juara melainkan keramaian para penonton pada beberapa pertandingan.
Di Hungaria misalnya, penonton tumpah ruah. Walau tidak memenuhi stadion, penonton tergolong luar biasa dengan suasana emosional kemeriahan pendukung. Ketika terjadi gol penonton bersorak dan berpelukan sambil teriak histeris. Keriuhan nyanyian dukungan berlangsung sepanjang pertandingan.
Bukankah itu biasa dalam pertandingan sepakbola, termasuk juga di Indonesia. Mengapa pula dijadikan bahan perbincangan. Mengapa lebih menjadi sorotan ketimbang pertandingan sepakbolanya?
Jelas deretan pertanyaan terkait pandemi Covid-19. Masyarakat memperbincangkan karena suasana kontras dengan kondisi di Indonesia yang saat ini sedang berjibaku menghadapi wabah Corona gelombang kedua. Di Indonesia sedang bertarung nyawa, harus pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, sementara di beberapa negara Eropa, dalam event EURO 20/21 sudah demikian bebas. Kontradiksi tajam bukan?
Lalu mulai mencari berbagai jawaban. Sayangnya, bukan mengkaji lebih jernih, mencari data lengkap, menganalisa obyektif. Yang dikedepankan nuansa politik. Lebih parah lagi politik kebencian kepada pemerintah. Maka mulai muncul tudingan penanganan pandemi pemerintah tidak becus. Kepemimpinan Jokowi amburadul. Strategi pemerintah salah dan masih banyak lagi, dengan membandingkan keberhasilan pada beberapa negara Eropa yang sedang bertanding. Perbandingan atas dasar emosional, bukan rasional.
Hungaria menjadi contoh paling ekstrim karena tergolong pertama terlihat penonton sepakbola Indonesia sudah seperti kondisi normal, tak ada pandemi. Beberapa negara lain, memang ada penonton tapi tidak seheboh saat di Hungaria.
Mengapa ini bisa terjadi? Bukan tanpa dasar, pemerintah Hungaria memberikan kelonggaran seakan pandemi sudah berakhir. Pertama, dari sekitar 9,2 juta penduduk Hungaria lebih dari 5 juta telah selesai divaksin. Secara prinsip medis, pencapaian lebih 50 persen sudah terbuka kemungkinan terwujud herd immunity, kekebalan masyarakat. Kondisi Hungaria, hampir sama dengan kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang telah melonggarkan protokol kesehatan.
Kedua, berdasarkan pemberitaan berbagai media -ini yang kurang diperhatikan- penonton yang akan masuk diatur sangat ketat. Bukti telah selesai divaksin, negatif Corona menjadi persyaratan kelengkapan selain tiket. Penonton dari negara lain mendapat perlakuan jauh lebih ketat lagi. Jadi, yang terlihat demikian “normal” kondisi penonton pada saat berlangsung pertandingan melalui proses sangat ketat luar biasa.
Ketiga, Hungaria yang memiliki penduduk hanya sekitar sepertigapuluh Indonesia sejak pandemi telah menerapkan disiplin Prokes sangat ketat. Masyarakat demikian patuh memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan, ketika pertama kali terjadi pandemi. Masyarakat mengikuti keseluruhan berbagai kebijakan pemerintah. Itulah, mengapa ketika banyak negara masih bertarung hidup mati, Hungaria dan beberapa negara lain telah bisa tertawa lebar.
Bandingkan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Dari segi jumlah penduduk saja, terlihat perbedaan sangat mencolok, yang menggambarkan kompleksitas penanganan pandemi. Hungaria berpenduduk 9,2 juta, Indonesia sekitar 270 juta jiwa. Kondisi geografis, juga menjadi faktor pembeda pada kedua negara sehingga hasil penanganan pandemipun menjadi berbeda.
Di luar berbagai kebijakan penanganan pandemi, faktor paling mendasa yang menjadi kunci keberhasilan lebih cepat adalah kedisiplinan masyarakat dalam menerapakan Prokes. Itulah kunci utama, penanganan pandemi. Mau kebijakan lockdown, Pembatasan Berskala Besar, Pembatasan Berskala Kecil, jika masyarakat jauh dari disiplin, sangat sulit memutus pandemi Covid-19.
Dengan sangat menyesal -realitas obyektif- kedisiplinan masyarakat Indonesia harus diakui sangat rendah. Jangankan untuk mematuhi keseluruhan Prokes, untuk tertib memakai masker saja, sulitnya minta ampun. Tak usah jauh-jauh melakukan kajian dan penelitian. Datanglah ke pasar-pasar, ke warung-warung di Kota Besar, dengan sedih dapat disaksikan betapa rendah kedisplinan untuk ‘hanya’ memakai masker. Jika di kota-kota besar saja, demikian jauh kedisplinan, apalagi di kampung-kampung.
Upaya pemerintah melaksanakan vaksinasi saja, sulitnya minta ampun. Baru setelah melibatkan TNI/Polri, upaya vaksinasi masyarakat dalam beberapa hari terakhir ini, berjalan relatif massif. Itupun tetap dengan gangguan berbagai provokasi anti vaksin, anti masker, yang dilakukan oknum-oknum tidak bertanggungjawab.
Kemeriahan penonton Piala Eropa memang mengesankan tentang keberhasilan penanganan pandemi di beberapa negara. Namun, masyarakat tetap perlu belajar dari berbagai kasus kegagalan lainnya. Taiwan, Australia, India, Singapura, Malaysia deretan negara yang sebelumnya tergolong berhasil dalam mengatasi pandemi. Namun, gerak gerik Corona memang sulit ditebak. Lalai sedikit saja tiba-tiba merebak lagi kasus terinfeksi sehingga negara-negara yang sebelumnya berhasil, harus memulai dari awal.
Intinya, menghadapi Corona, tetap memerlukan kewaspadaan tinggi. Keberhasilan menjinakkan Corona bisa hanya sesaat lalu berubah menjadi malapetaka kembali. Benar-benar sulit diduga. Itulah yang harus diwaspadai dengan selalu disiplin mentaati Prokes. (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.