SAMPANG, koranmadura.com – Pendirian tenda darurat di Lapangan Wijaya Kusuma untuk dijadikan rumah sakit lapangan di kala terjadi lonjakan pasien positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, kini mendapat sorotan dari Lembaga Kesehatan NU (LKNU) setempat.
Ketua LKNU Kabupaten Sampang, Moh Hasan Jailani menyampaikan, hal itu karena lokasi lapangan wijaya kusuma dinilainya tidak representatif. Padahal menurutnya, ada beberapa lokasi yang lebih representatif untuk digunakan penanganan pasien positif Covid-19.
“Setahu kami, ada gor indoor, gedung dekranasda, gedung bekas kantor Disporabudpar, bekas kantor Satpol PP, yang di dalamnya mudah dibersihkan dan mudah ditambahi beberapa fasilitas pendukung seperti ventilasi dan ada pagar. Sehingga keluar masuk pengunjung mudah dipantau. Nah kalau ditaruh di lapangan di depan pendapa, kesannya ala kadarnya,” katanya, Kamis, 8 Juli 2021.
Mamak sapaan akrab Moh Hasan Jailani mengaku, sangat setuju jikalau terdapat penambahan fasilitas untuk penanggulangan pasien Covid-19 di Sampang. Namun pihaknya masih meragukan tingkat pelayanan yang akan diberikan karena lokasi yang digunakan dinilainya kurang representatif.
“Justru nanti malah menimbulkan masalah baru, seperti kondisi pembuangan toilet pasien. Tapi kalau di indoor misal, fasilitas itu pasti ada dan hanya tinggal menambahi beberapa fasilitas. Jadi perlu dipikir ulang untuk instalasi pembangunan tenda. Padahal kalau siang itu panas sekali, kalau malam ya dingin sekali. Jadi dikhawatirkan pasien nantinya malah imunnya tambah drop,” paparnya.
Pemilihan lokasi gedung indoor, menurutnya karena sebelumnya pemerintah Kabupaten Sampang pernah menggunakan fasilitas gedung indoor untuk menampung dan bermukim sementara warga korban konflik sosial.
“Lumayan memadai kok semisal lokasinya di tempatkan di gedung indoor. Apalagi ada halaman luas untuk olahraga, ada taman-taman untuk santai sebagai penyegaran pasien agar imunnya nambah. Jadi segala hormat tim gugus tugas untuk memikirkan kembali penempatan lokasi untuk penanganan pasien Covid,” pungkasnya.
Sementara Ketua Penanggulangan Bencana Non alam dan Percepatan Penanganan Covid-19 Sampang Yuliadi Setiawan menyampaikan, menyampaikan, pendirian rumah sakit lapangan di Wijaya Kusuma diakuinya hanya untuk langkah antisipasi terhadap kondisi lonjakan kasus Covid-19 dan juga memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Kami berharap masyarakat melihatnya kondisi Sampang memang darurat Covid-19. Biar masyarakat juga terus menerapkan prokes 5 M dan juga mau bervaksin. Pendirian tenda ini menjadi pesan moral, biar masyarakat hati-hati, ini sampai dibangun kayak gitu. Dan kami juga tidak main-main soal Covid ini,” jelasnya.
Menurut Sekda Kabupaten Sampang ini, jalan keluar untuk penekanan kasus Covid-19 saat ini yaitu hanya dua cara yakni penerapan protokol kesehatan (Prokes) dan Vaksinasi.
“Jadi masyarakat kalau sadar yang dua itu, ya selesai,” terangnya.
Ditanya soal penampungan ruang isolasi pasien Covid-19 di Sampang, Yuliadi menegaskan, semua rumah layanan kesehatan yang dijadikan penampungan sudah over load.
“Fasilitasnya sudah tidak cukup apabila ditambah pasien lagi. Sehingga rumah sakit lapangan kami dirikan. Bed kapasitas 109 sudah terpenuhi dan RS Ketapang sekarang dijadikan rujukan. Nah soal indoor, bisa saja kami geser, itu gampang,” tutupnya. (MUHLIS/ROS/VEM)