SAMPANG, koranmadura.com – Waspada terhadap prediksi dampak La Nina, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, mulai melakukan upaya mitigasi di bantaran sungai Kali Kamoning, Kabupaten Sampang, Senin sore, 1 November 2021.
Sekitar 15.30 wib, Sekretaris BPBD Provinsi Jawa Timur, didampingi BPBD Kabupaten setempat serta sejumlah relawan dari Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) setempat mengunjungi Pondok Pesantren (Ponpes) Assirojiyyah, Kajuk, Sampang, bersilaturahmi serta melihat kondisi salah satu titik Sungai Kali Kamoning.
Sekretaris BPBD Provinsi Jawa Timur, Erwin Indra Widjaja mengaku, kunjungannya ke Ponpes Assirajiyyah, Kajuk, Sampang, diakuinya sebagai salah satu bentuk mitigasi menghadapi musim penghujan yang akan berlangsung hingga awal 2022 mendatang.
“Menghadapi La Nina ini, supaya nanti siap dan menjadi tangguh ketika ada hal yang tidak diinginkan. Di Sampang ini ada sejarahnya, bahwa banjir di Sampang berawal dari Sungai Kali Kamoning,” katanya saat melihat kondisi aliran dan kebersihan Sungai Kali Kamoning di lokasi Ponpes Assirojiyyah, Kajuk.
Erwin sapaan akrab Erwin Indra Widjaja menyampaikan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yaitu memprediksikan bahwa ada beberapa Kabupaten di wilayah Jawa Timur, akan mengalami hujan yang cukup tinggi dan dapat menimbulkan banjir, tanah longsor dan Banjir bandang. Bahkan pihaknya menegaskan, prediksi dampak La Nina saat ini lebih kuat jika dibandingkan tahun sebelumnya.
“Ada beberapa Kabupaten yang menjadi catatan kami, salah satunya yaitu Kabupaten Sampang dan Nganjuk. Makanya perlu diantisipasi dan perlu mendapat perhatian agar siap menghadapi semuanya,” paparnya.
Maka dari itu, pihaknya mengaku kedatangannya saat ini untuk menskenario melestarikan sungai.
“Nanti akan ada kegiatan bersih-bersih sungai dan penanaman vegetasi di sekitar Sungai Kali Kamoning,” pungkasnya.
Sementara Pengasuh Ponpes Assirojiyyah, Kajuk, Sampang, KH. Moh Itqon Bushiri menyampaikan, rencana adanya kegiatan susur sungai diharapkan berjalan lancar dan berdampak positif, terutama untuk mengurangi risiko bencana banjir.
“Masyarakat itu bukan hanya kedatangan banjir, tapi nanti pasca banjir juga jadi masalah karena ada potensi penyakit seperti leptospirosis atau kencing tikus. Jadi kerjaan kita bukan hanya banjir tapi menyikat rumah nanti juga harus pakai deterjen,” paparnya.
Pihaknya juga berharap, adanya kegiatan yang sudah mulai dikonsep oleh pihak terkait, menjadi pembelajaran terhadap masyarakat bahwa pentingnya menjaga dan memelihara sungai.
“Ya agar tidak banjir, jangan buang sampah sembarangan ke sungai. Apalagi sampah saat ini juga bisa dikelola,” katanya. (MUHLIS/ROS/VEM)