SAMPANG, koranmadura.com – Khawatirkan perubahan iklim yang ekstrim karena masuk radar potensi terjadi La Nina, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sampang, Madura, Jawa Timur, jalin komunikasi dengan puluhan relawan kebencanaan setempat.
Kepala BPBD Sampang, Asroni menyampaikan, pihaknya menjalin komunikasi kaitannya dengan kesiapsiagaan mulai pra, saat dan pasca bencana. Menurutnya, dengan mengumpulkan para relawan diaharapkan dapat membentuk agent informasi di tiap-tiap desa atau tempat tinggalnya. Sebab berdasarkan keterangan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diterimanya, perubahan iklim dikatakan tidak biasanya dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Kami memang mengantisipasi agar kejadian di Batu, Malang, Lamongan, Jember, Tuban, supaya tidak terjadi di Sampang. Toh semisal terjadi, supaya tidak parah dan tidak memakan korban. Makanya kami mencoba mencegah dan siap siaga di awal. Tapi mudah-mudahan tidak terjadi (bencana),” katanya, Selasa, 9 November 2021.
Menurutnya, saat ini masyarakat sudah antusias berpartisipasi dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi prediksi La Nina di Sampang, terlebih sudah masuk dalam daftar perubahan iklim ekstrim saat ini.
“Lebih baik persiapan dari sekarang. Makanya kita bisa mengukur kemampuan kita,” jelasnya.
Mengenai relawan menjadi Agent Informasi, Asroni menyampaikan, informasi perubabahan iklim dan prediksi yang akan berpotensi akan terjadi sudah disampaikan oleh BMKG, sehingga keberadaan Agent Informasi diharapkan juga disampaikan kepada masyarakat luas.
“Informasi kebencanaan itu bisa disampaikan dari grup WhatApp, medsos, media dan sebagainya,” harapnya.
Potensi kebencanaan yang akan muncul akibat fenomena La Nina, Asroni menyebutkan yaitu di antaranya bencana banjir, longsor, dan angin puting beliung.
“Intinya kami antisipasi dari segala kemungkinan,” pungkasnya.
Sementara Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Sampang, Moh Hasan Jailani menyampaikan, yang perlu ditekankan dalam menghadapi perubahan iklim eksrim La Nina yaitu sosialisasi kebencanaan dengan berbagai cara misal woro-woro via medsos dan sosialisasi secara langsung.
“La Nina itu perlu diantisipasi, karena sudah banyak contoh kejadian yang sudah terjadi seperti terakhir di Kota Batu, Malang,” terangnya.
Berdasarkan informasi yang diterimanya, Mamak sapaan akrab Moh Hasan Jailani menyampaikan, salah satu akibat La Nina yaitu intensitas air hujan naik sekitar 20 hingga 70 persen. Sehingga pihaknya meminta semua kalangan untuk tidak menganggap remeh dampak potensi yang akan ditimbulkan La Nina.
“Kalau Forum lebih banyak dalam urusan pra bencana (mitigasi) dan saling sinergitas dengan para relawan. Sehingga para relawan lebih aktif menginformasikan banyak hal tentang kebencanaan,” terangnya.
Pihaknya berharap, dalam menghadapi potensi kebencanaan agar menghilangkan ego sektoral di berbagai kalangan baik masyarakat maupun OPD.
“Sinergitas sangat perlu, sehingga ketika ada bencana ya harus sinergi. Sehingga nanti siapa komando dan harus melakukan apa, itu jelas. Sehingga relawan pun yang ikut membantu tidak bingung dan kocar kacir,” pungkasnya. (MUHLIS/ROS/VEM)