Oleh: Syamsuni, Jurnalis Koran Madura Online (*)
Malam itu, ia begitu sumringah dari malam-malam yang biasanya. Saat siang mulai senja, seharusnya ia bergegas masuk rumah, beres-beres kamar tidurnya untuk segera merajut mimpi. Namun, sosok kecil dan mungil itu tiba-tiba duduk, menghidupkan lampu, kemudian ambil bolpoin dan menulis di bawah sinar cahaya lampu. Seolah ia ingin menikmati malam yang terang benderang, duduk manis di kamar berukuran diameter 4×4 sembari dengan serius membuka lembar ke lembar buku pelajaran matematika, seolah ia tak mau beranjak dari sinar cahaya yang menjurus ke mukanya. Bahkan angin sepoi-sepoi yang berusaha mengusik dari bilik jendela kecilnya tak tampu menggoyahkan sedikitpun dari tempat duduknya. Baginya, cahaya itu seolah membangkitkan semangat belajarnya yang dulu habis dimakan gelap.
“Saat ini saya dan teman-teman yang lain nikmat belajar, dahulu, antara gelap dan terang seolah sama saja kak. Tapi kini, kami bisa puas belajar berkah dari sumber daya alam di pulau kami,” ucap salah satu siswi asal Kepulauan Kangean, Siti Maimunah, 24 Januari 2022 saat bincang-buncang santai dengan Koran Madura.
Ia pun berkisah bahwa sejak duduk di bangku sekolah tingkat pertama (SMP), ia sempat frustasi melihat kondisi gulita yang menggurita, bahkan sampai berontak ke orangtuanya agar bisa mengenyam pendidikan dengan fasilitas yang layak seperti di kota. Namun, karena ia dari kalangan yang kurang mampu, niat sekolah di kota pupus, dan harus menelan pil pahit. Hanya satu, karena di pulaunya itu tak bisa diajak bersahabat dalam urusan belajar. Sebabnya hanya satu, gelap gulita.
“Alasan saya waktu itu sederhana kak, karena lampu di sini sering padam. Kami tak bisa nikmat belajar,” jelasnya seusai belajar dan menemui Koran Madura Online.
Pun seperti Darus di Desa Goa-Goa pulau Raas, bahwa Raas juga dapat perhatian dari kontraktor migas untuk kelistrikan. Baginya, ini sebuah keberkahan. Gulita yang diderita warga bertahun-tahun seolah lenyap seketika.
“Ini sebuah keberkahan, karena kekayaan sumber daya alam kami. Terima kasih, kami berharap KKKS tak hanya mengeksplorasi, tetapi juga bermanfaat bagi kami,” ucap warga Pulau Raas itu. Kini, pengakuan Darus, “terang” adalah sebuah kenikmatan.
Tidak hanya Darus dan warga lainnya yang dapat merasakan kondisi yang begitu menggurita, hal senada juga dirasakan oleh Sukron (37), salah satu warga Kangean. Menurutnya masalah sering padamnya listrik ini sudah berlangsung lama dan kronis. Katanya, kejengkelan demi kejengkelan datang setiap saat, ketika sedang menikmati makan malam atau sedang menonton acara kesayangan di televisi atau bahkan ketika menikmati acara-acara khusus seperti pesta pernikahan, acara-acara keagamaan seperti maulid nabi, atau pergantian tahun, warga hanya bisa menahan nafas dan hanya bisa mengkhayal kapan pulaunya itu bisa terang benderang. Katanya, khayalan warga di luar batas akal, andai malaikat turun.
“Ia datang (padam) kapan saja yang dia mau,” kata Sukron menjelaskan lebih lanjut kepada Koran Madura yang juga ikut merasakan langsung “sering matinya” listrik.
“Untung kami memiliki cadangan berupa sebuah genset. Namun, itu hanya beberapa saat, kita harus sumbangan untuk memenuhi premium. Namun kini, pulanya sudah terang,” lanjutnya.
Sebagai perusahaan yang melakukan eksploitasi di daerah sekitar, KEI sadar bahwa tanggung jawab sosial wajib dilakukan untuk membalas jasa warga yang menjaga penuh kekayaan alam yang melimpah ruah itu.
Novita, salah satu warga lain di daerah Pagerungan Besar ikut mengenang masa-masa kelam pulaunya, tak terhitung lagi orang yang kehilangan rumah karena lampu mati. Mereka menyalakan lilin, ketiduran, lantas rumah warga terbakar. Walapun Novita sadar, musibah datang kapan saja walaupun listrik hidup. “Namun, adanya listrik telah membuat akses ekonomi masyarakat semakin terbuka lebar,” imbuhnya.
Berdasar data yang dirilis KEI, setelah Pagerungan Besar, di Desa Saseel wilayah pembangunannya meliputi Dusun/Pulau Saredeng Kecil dan Saredeng Besar. Sementara di Desa Sabuntan, pembangunannya difokuskan di Dusun/Pulau Sepangkur Besar dan Sepangkur Kecil.
Di Desa Saredeng Besar, dan Pelat Mandar Kangean Energy Indonesia Ltd telah memberikan bantuan berupa Genset 15 KVA dan 3000m kabel jaringan serta peralatan kelistrikan lainnya di dusun Saredeng Besar. Sementara di Pelat Mandar KEI juga memberikan bantuan berupa Genset 30 KVA, 3600 m kabel untuk jaringan dan kabel untuk jaringan rumah Sepanjang 2500 miter, serta pembangunan rumah genset.
Kini, usaha dan komitmen Kangean Energy Indonesia (KEI) Ltd. selaku kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) SKK Migas untuk membuat terang benderang di daerah sekitar tidak hanya isapan jempol belaka. Lihatlah percepatan pembangunan infrastruktur di daerah sekitar terus dilakukan. Bahkan belasan pulau sekitar lokasi produksi migas dimuncratkan oleh keberkahan dari lumbung migas ini.
Terbukti, jika sebelumnya pulau kecil di sekitar Desa/Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, gelap, sekarang sudah terang benderang. Anak-anak yang dulunya menggunakan lilin untuk belajar di malam hari kini tidak lagi sekarat, sehingga mereka bisa belajar puas. Sebab, rumah-rumah di perkampungan itu sudah dialiri listrik.
Kepala Desa Pagerungan Besar, Yulandi, merasa sangat bangga terhadap langkah KEI untuk memutus rantai derita warga, karena bantuan penerangan dari SKK Migas-KEI Ltd sangat membantu masyarakat sekitar. Tidak hanya memperlancar aktivitas warga. Tapi, juga mampu membangkitkan ekonomi warga.
“Sebab, mayoritas warga sekitar memiliki usaha kecil. Usaha kecil itu membutuhkan fasilitas listrik untuk mengembangkan usahanya. Kami Sangat bersyukur sekali ada bantuan dari KEI karena listrik memang sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Kepala Desa Tonduk, Sri Harjati, tidak hanya mengapresiasi, tetapi juga sangat terharu. Sebab selama puluhan tahun, warga menderita karena gelap. Biaya yang dikeluarkan terhadap program kelistrikan di empat pulau tersebut mencapai Rp 4 miliar lebih. Pihaknya selalu berkomitmen untuk berupaya mewujudkan program kelistrikan yang diharapkan masyarakat. Dia berharap, program tersebut dapat membantu warga dari berbagai aktivitas.
Dia mengatakan, masyarakat sangat terbantu dengan adanya listrik. ”Alhamdulillah, kami sangat terbantu. Anak-anak bisa mudah saat belajar di malam hari. Terima kasih KEI,” ucapnya.
Mereka pun berharap, agar TJS tak berhenti di listrik, tapi pada bidang-bidang yang lain. Seperti pengembangan jalan juga ditingkatkan. Mengingat, masyarakat sangat membutuhkan fasilitas jalan untuk memperlancar aktivitas mereka,” jelasnya.
Beasiswa dan Martabatkan Guru
Program beasiswa yang diluncurkan KEI sejak tahun 2012-2013 juga sangat dirasakan dampaknya. Sebab sejak ada program itu, siswa-siswi di segenap instansi pendidikan terkait (baik SMA maupun Perguruan Tinggi) semakin giat belajar, bahkan terjadi kompetisi antar sekolah dan PT untuk melahirkan anak-anak didik yang unggul dan berkualitas.
Selintas untuk mengetahui tentang program itu, KEI Ltd memberikan dukungan finansial yang langsung diserahkan pada penerima beasiswa guna mendukung kegiatan belajar di sekolah melalui pembayaran biaya pendidikan. Sampai sekarang, KEI rutin memberikan beasiswa kepada putra-putri terbaik di warga terdampak.
Sementara beasiswa lainnya di tunjukan untuk perguruan tinggi yang diberikan dari semester 1 (satu) hingga lulus perguruan tinggi (AKAMIGAS).
“Berkat program itu, terjadi kompetisi antar siswa. Mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik. Semoga program ini tetap ada sampai nanti. Sebab dampaknya begitu besar bagi pembangunan pendidikan di Sumenep, terutama di kepulauan. Biar kami tidak lagi dipandang sebelah mata,” kata Syamsul Arifin, salah satu guru di Desa Sapeken.
Komitmen itu pun terus ditunjukkan untuk KEI. Sebab KEI juga punya perhatian serius terhadap guru non PNS. Kini, berkah lumbung migas juga dirasakan oleh semua guru yang ada di beberapa desa. Para guru pun “dimartabatkan” oleh KEI untuk memberikan upah yang layak kepada mereka, mengingat upah mengajar guru non PNS sungguh tak layak, sehingga Kangean Energy Indonesia Ltd yang peduli terhadap tenaga non PNS memberikan program berupa insentif. Baik negeri maupun swasta.
“Terima kasih, kami bangga punya KEI, awalnya kami khawatir, KEI hanya mengeruk keuntungan dari kekayaan pulau kami. Namun, penilaian saya salah, ternyata melalui TJS, KEI membut guru di sini tersenyum bangga,” akui Syamsul.
Memerangi Kemiskinan, Ikhtiar CSR KEI Sejahterakan Warga
Sejak aktivitas bisnisnya berjalan, KEI turut memberikan sumbangsih kepada lingkungan sekitar yang diwujudkan dalam program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR). Pada saat itu pihak KEI telah melaksanakan amanah sosial berupa pembangunan gedung SD dan SMP, pembangunan jalan, puskesmas pembantu, serta bantuan listrik. Termasuk air bersih gratis.
Bahkan program CSR KEI lebih nyata dengan beragam program, seperti penyediaan listrik gratis, air bersih, dan pemberdayaan ekonomi.
”Sebelum ada penerangan kita kesulitan dalam membuat pola, rancangan, dan memotong. Karena masih menggunakan alat tradisional. Alhamdulillah, setelah listrik masuk, saya dapat menggunakan mesin. Ternyata kerja lebih cepat, hasilnya pun lebih banyak dan baik,” kata warga lainnya, Muhammad.
Muhammad pun mengapresiasi program CSR KEI, karena benar-benar membawa berkah bagi kebangkitan ekonomi warga. Dan saya kesejahteraan keluarga saya pun ikut terangkat. Jadi, terimakasih kami sekarang bisa terang benderang,” ungkapnya.
Tak hanya itu, program CSR KEI juga memuat warga merasa bahagia karena bisa menikmati air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Air bersih tersebut bukan hanya membawa berkah bagi kehidupan. Sebab sebagian besar Pulau Pagerungan Besar wilayahnya berupa pantai. Untuk mendapatkan air bersih yang layak pakai masyarakat kesulitan. Air asin. Sehingga untuk minum mereka harus mengeluarkan uang. “Untuk ambil air yang bersih, jaraknya harus berkilo-kilo,” kata Salama, seorang ibu rumah tangga.
Warga lainnya, Aminah mengaku lega karena akses mendapat air bersih tidak harus beli, apalagi harus menempuh kiloan meter untuk mendapat air bersih. Kadang, kesulitan air bersih membuat para warga terpaksa mandi air asin. Akhirnya tak sedikit dari warga yang terserang penyakit. air bersih berperan dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dan perilaku hidup sehat.
Dalam sektor lain, yakni dalam pemberdayaan ekonomi, KEI melakukan pembinaan melalui pemberian bibit kelapa hibrida, pisang hasil kultur jaringan yang ditanam di setiap rumah penduduk, dan penyediaan bibit pejantan unggulan bagi warga yang beternak kambing etawa.
Begitulah jihad KEI dalam hal memerangi kemiskian, KEI istiaqamah dengan prinsipnya, memberikan “kail” bukan ”ikan”. Dalam menggulirkan bantuan, sedapat mungkin tidak dalam bentuk dana tunai langsung, tapi barang atau pelatihan yang bermanfaat dan bersifat jangka panjang.
Program CSR KEI juga menyentuh bidang kesehatan anak. KEI menjalankan program pembinaan kesehatan sekolah untuk pelajar SMP dan sederajat yang dibina dan diawasi dokter perusahaan. Program ini dimaksudkan agar para siswa dapat menjadi agen perubahan masyarakat dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Sementara program-program lain, pengadaan alat pertanian, rehab rumah kumuh, juga memberikan bantuan mesin agar nelayan dapat memperluas daerah tangkapan dan meningkatkan pendapatannya.
Sebentuk Apresiasi untuk KEI
Beberapa proram KEI sebagai rasa tanggung jawab sosial kepada masyarakat sekitar mengundang decak kagum beberapa pihak, tidak hanya dari kalangan pejabat, tetapi juga dari kalangan politis, akademisi, hingga bupati. Bahkan terobosan KEI itu perlu mendapat apresiasi yang setinggi-tingginya. Sebab tidak semua perusahaan migas tidak seperti yang dilakukan oleh KEI. “Terutama soal kelistrikan, sebab selama puluhan tahun, warga menderita kegelapan,” ucap Suryadi, pengamat kepulauan asal Raas.
Bupati Sumenep, Achmad Fauzi mengaku, sangat bangga atas program TJS KEI dalam memerangi kemiskinan di pulau daerah penghasil. Terutama desa-desa yang ada di Kangean dan Sapeken. “Tentu sebuah jihad kemiskinan yang perlu mendapat apresiasi dari banyak pihak. Karena ini luar biasa, sehingga masyarakat bisa merasakan dampaknya,” ucapnya. (*/SOE/ROS)