Oleh : Abrari Alzael | Budayawan
Tahun 1994, majalah Tempo dibredel Orde Baru. Sebagian kru masih bertahan di majalah ini. Selebihnya, mendirikan majalah baru, Gatra (yang mengadaptasi Tempo). Kru Tempo menduga majalah Gatra meniru Tempo. Awak Gatra, meminta kru Tempo tidak berbangga diri karena Tempo pun juga mengadopsi majalah Time. Awak Tempo menyadari telah memodifikasi Time menjadi Tempo. Tetapi, kru Tempo membela diri; benar meniru Time tetapi cara Tempo meniru berbeda dengan model Gatra. Tempo mengadaptasi Time tanpa membunuh (Time), sedang Gatra, mengadopsi dengan membunuh yang ditirunya (Tempo).
Dalam adegan yang lain, KH Agus Salim (berjenggot), hendak berpidato di hadapan hadirin. Sebagian undangan tiba-tiba bersuara seperti bunyi hewan ternak, embek…… Sebagian hadirin tertawa karena bunyi hewan ternak yang didengarnya, mengasosiasikan kesamaan Agus Salim (yang berjenggot) dengan binatang tertentu yang juga berjenggot. Tetapi, cara Agus Salim bertutur membuat audien sadar ; “Perasaan, saya (Agus Salim) tidak sedang berbicara di hadapan para kambing.”
Di sudut yang berbeda, orang-orang keras membela diri, mengutuk yang lain, menghadirkan tuhan; berteriak, sekeras mungkin, di jalan raya. Padahal, tuhan sangat dekat, selekat urat, pada kulit. Mengapa terjadi anarkhisme sapaan pada Tuhan? Inikah soal cara pandang itu, masalah cara bagaimana memberi pandangan, tentang apapun?
Soekarno di eranya, memiliki gagasan besar tentang negeri ini; membangun peradaban. Mengapa Bapak Bangsa itu tidak menggunakan istilah kebudayaan? Sebab terminologi peradaban, dalam mata batin Soekarno, jauh lebih penting; soal adab, mengenai keadaban yang takzim berkait sesama manusia (hablun minannas) dan terhadap tuhan (hablun minallah). Maka, kedudukan peradaban dalam posisi ini menjadi jauh lebih bernilai. Itu sebabnya, dalam konteks keindonesiaan, tidak termasuk kebudayaan apabila abai terhadap keadaban.
Mengamati fragmentasi kehidupan kontemporer, keadaban itu seperti slogan sarung yang dibaca dari kanan. Tulisan yang seharusnya “dijamin tidak luntur”, saat dibaca dari kanan ke kiri menjadi “luntur tidak dijamin”.
Orang-orang, sebagian (besar) berteriak mengikuti irama binatangisme yang jalang. Keadaban, memang berkembang secara bersamaan dengan kebiadaban. Tetapi, tidakkah bolehkah bermimpi apabila keadaban menjadi panggung yang determinan dibanding ketiadaan adab dalam kehidupan. Di sebagian (besar) Jepang, di Thailand, keadaban itu masih dominan.
Seseorang yang mengalami ketertinggalan barang bawaan di stasiun pada saat dirinya berada dalam kereta yang sedang berjalan, tidak perlu panik sebab barang bawaan itu dijamin kembali. Di negeri yang apakah harus diberi nama khatulistiwa ini, barang bawaan di dekat penumpang kereta, seringkali raib. Pemilik barang bawaan itu bingung, orang-orang yang berada di dekat pemilik barang itu juga tidak mengerti. Apakah karena negeri ini kaya, apakah karena menanam apa saja di tanah ini bisa, apakah karena sebagian besar di tanah ini boleh melakukan apa saja? Ini negeri, tetapi ini juga ngeri. (*)