Oleh: Miqdad Husein (*)
Saat Ustaz Yusuf Mansur memulai menggeluti dunia bisnis beberapa tahun lalu banyak dukungan masyarakat muslim. Namun, tak sedikit yang menghawatirkan, terutama yang memiliki latar belakang dunia bisnis. Yang memahami belantara dan rimba bisnis.
Mereka yang memberikan dukungan termasuk dalam bentuk aktif menanam investasi memang tak semua atas dasar pertimbangan bisnis. Faktor ideologi diam-diam menyelinap. Misalnya, karena yang menangani Ustaz tentu aspek kejujuran dan kelurusan pengelolaan terjamin. Jalan yang akan ditempuh halalan wa tayyiban.
Aktivitas Yusuf Mansur, yang dikenal sebagai ustaz sedekah, makin memberikan keyakinan bisnis akan tokcer, menguntungkan. Bisnis yang bernuansa sedekah, dibumbui penafsiran agak ‘kapitalis’ akan dilipatgandakan minimal 10 kali lipat, bahkan 700 kali lipat makin mengentalkan keyakinan para investor religius.
Di sini diam-diam mulai masuk berbagai bumbu irrasional bernuansa agama. Keikhlasan dicampur aduk pikiran kapitalis. Ingin ikhlas tapi berharap menguntungkan. Kontradiksi kan?
Bisnis bernuansa agama, atau sengaja menggunakan baju agama seperti dilakukan Yusuf Mansur, sebenarnya sering terjadi. Ujungnya, banyak yang agak tragis. Para investor tertipu. Alih-alih untung, malah buntung.
Tentu, kasus Yusuf Mansur berbeda dengan berbagai investasi bisnis yang berkedok agama dan ternyata penipuan. Sejauh ini, kecuali salah kaprah soal doktrin sedekah, kasus Yusuf Mansur diduga lebih sebagai kegagalan bisnis. Masih diyakini sosok Yusuf, tidak akan tega atau memiliki keberanian untuk menipu.
Nah urusan soal pengelolaan bisnis inilah ternyata belakangan mulai terbukti dari pemikiran yang dari sejak awal meragukan. Para profesional bisnis ini bukan meragukan kejujuran dan niat ikhlas Yusuf Mansur tetapi lebih ke arah kemampuan pengelolaan. Itu tadi ketika bisnis yang riil kapitalis justru dibungkus agama sehingga rasionalitas bisnis agak terabaikan. Bahasa kasarnya kalkulasi bisnis jadi kurang rasional.
Satu lagi, untuk menarik investasi diduga Yusuf Mansur memberi bumbu-bumbu keyakinan keagamaan ‘wabil khusus ajaran sedekah’ yang dijamin menguntungkan 10 kali bahkan 700. Siapapun yang hanya menggunakan pikiran pendek akan tergiur. Lha untung 20 persen saja perbulan sudah sangat seksi apalagi 1000 persen bahkan 70000 persen, jika mengacu sedekah bisa berlipat 10 dan 700 kali.
Doktrin pemahaman salah kaprah sedekah ini sangat mungkin menjadi pertimbangan atau paling tidak bumbu para investor. Siapa yang tak tergiur pahala sedekah dan keuntungan duniawi.
Walhasil, sambil mengikuti proses hukum terasa perlu mengingat hadist Nabi Muhammad bahwa bila profesi tertentu ditangani yang bukan ahlinya tunggu ujungnya: berantakan. Kacau balau.
Seorang sahabat senior, yang terkenal profesional pernah mengingatkan dengan nada santai. “Sebaiknya ustaz jangan berbisnis, kalau memang tidak paham seluk beluknya. Yang kacau bukan hanya bisnisnya tapi juga timbul kesan kurang baik yang dikaitkan pemahaman agama.”
Begitulah…. (*)
*Kolumnis, tinggal di Jakarta.