Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Ada yang merasa, Indonesia tidak sedang baik-baik saja. Satu pihak, menyerang pihak lain, baik dengan narasi atau dengan selebrasi, sesama warga negara. Padahal, sila ketiga Pancasila masih utuh : Persatuan Indonesia. Tetapi pada sebagian pihak, menanggalkan sila itu. Padahal, mereka sama-sama dalam kondisi yang dirasakannya sehat, tidak amnesia dalam teori, walau kadang lupa diri di aplikasi.
Di daerah yang lain, masih dalam bingkai Indonesia, ada adegan di pasar sapi. Sesama ahli sapi kadang-kadang tertipu. Padahal mereka sudah ahli dalam dunia persapian. Suatu ketika, pembeli sapi yang ahli sapi, menertawakan dirinya sendiri usai membeli sapi. Ketika masih di pasar, ia sudah sangat teliti memilah-milah sapi, untuk kemudian memilih, untuk dibeli dan dibawa pulang. Tetapi pembeli sapi yang sudah ahli ini, menertawakan dirinya sendiri karena tertipu setelah beberapa hari.
Sapi yang dibeli ketika masih dipasar begitu gagah dan layak dimiliki. Begitu tiga hari berlalu, sapi gagah itu berubah seok dan kurus. Lelaki itu baru sadar bahwa ternak yang dibeli adalah sapi yang telah mengalami silikonisasi. Kegagahan tak berlangsung lama karena imitasi dan vermak bodi melalui cair silikon. Kesimpulannya, sesuatu yang tidak alami, pasti tidak murni. Sesuatu yang tidak murni selalu imitasi, dan tidak bisa bertahan lama.
Di tik tok ponsel seorang kawan, orang-orang bersuara lantang, memuja atau mengkritik sekutu maupun seteru. Begitu seringnya bernarasi, lama-lama penonton merasa geli dan bertanya, apakah suara itu bersumber dari hati, atau berpijak dari kaki? Ataukah ia hanya agen dari sebuah big design yang bertugas untuk caci-maki atau unjuk gigi untuk prestasi pada satu sisi? Setiap penonton memiliki rasanya sendiri-sendiri. Di ending sebagai akhir riwayat, kenyataannya bisa begitu, atau tidak begitu, sebagai sebuah presisi.
Membayangkan saja, seandainya negeri ini hanya berisi sedikit penganut diferensianisme. Tetapi pada runcing situasi, Indonesia seperti gelas kecil yang berisi kopi ; semakin diaduk, semakin kelihatan. Rakyat paham, tetapi yang duduk di sana, merasa seperti tidak sedang terjadi apa-apa. Padahal, penonton sedang menyaksikan, ada wasit yang ikut bermain sepak bola. Ada pemain sepak bola pada saat yang sama juga menjadi wasit; jungkir balik dan gerakan akrobatik di lapangan sepak bola menjadi sirkus. Sekali lagi, yang di sana seakan-akan memahami penonton sebagai kelompok yang tidak peduli, dianggap tidak mengerti.
Orang-orang bercuriga, para pemuji dan pembenci itu sebenarnya agen dari sebuah distributor isu, untuk tujuan pecah-belah yang berujung pada kepentingan, untuk tidak menyebutnya keuntungan. Sebab dalam hukum Newton 1, sesuatu bergerak disebabkan oleh sesuatu yang lain yang membuatnya bergerak. Tetapi seperti kata penceramah di atas podium itu, Sabtu pada hari ini, tidak jauh lebih baik dari Sabtu di hari yang lalu, terus-menerus akan begitu. Sampai akhirnya, pembusukan hari-hari itu terjadi hingga kebajikan dan ketidakbaikan itu punah.
Keanehan lelakon di era kontemporer ini merajalela, menjadi pandemi yang tidak terasakan dampaknya bagi peradaban masa depan. Kehidupan bernegara terasa seperti nelayan yang menangkap ikan dengan dinamit. Bom ikan ini tidak hanya memporandakan ikan tetapi terumbu karang yang menjadi rumah ikan juga hancur. Saat sarang ikan berantakan, ikan-ikan kabur karena diinvasi dengan senjata garang. Lalu anak cucu nelayan yang lain, yang lahir di era kemudian, mengalami kesulitan menangkap ikan. Terumbu karang pecah-pecah dan jadi sampah. Bumi bolong-bolong, menganga pada tanah yang mati; orang-orang terdahulu terlalu ambisi dalam meraih mimpi (buruk), sampai lupa diri.
Maka benar sudah ketika kacamata orang modern di letakkan di atas kepala. Karena yang tidak bisa melihat hari ini, bukan lagi mata, tetapi otak. Tak ada lagi kata bijak yang masuk sebagai hal yang bajik dan radik. Ia seperti anak kecil yang tidak menerima saran, dilarang mandi di malam hari karena bisa menyebabkan datangnya sakit. Suatu malam, anak kecil itu bersarung handuk, (hendak mandi di malam hari). Tetapi sebelum masuk kamar mandi, orangtuanya melihat sang anak. Lalu orangtua itu menampar anaknya (karena hendak mandi di malam hari). Anak kecil itu bilang, “Baru aku sadar, ternyata mandi malam itu bikin sakit.” Kini, ada yang melihat negeri ini, banyak yang hendak mandi, di malam hari. (*)