Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Di atas kuburan, seorang tokoh membaca talqin. Disebutkan, kehidupan adalah real. Kematian juga nyata. Pusara dan para pelayat, merupakan bukti yang menegaskan bahwa dua hal tersebut benar adanya.
Pada dasarnya, siapapun, sedang menanti untuk mati. Walaupun, ditunggu atau tidak ditunggu, ia akan tiba, pada saatnya. Maka sebelum kematian tiba, hidup adalah pilihan yang harus ditempuh. Bagaimana cara menjalani, setiap orang memiliki gaya dan caranya sendiri-sendiri. Ada yang hidup dengan memberi kehidupan dan ada pula yang hidup dengan cara mematikan yang lain. Macam-macam rupanya, tersenyum, membelalak, memarah, dan sarat dendam.
Lalu, apa yang dituju dalam hidup? Dalam kehidupan, tentu ada tujuan yang ingin dicapai. Banyak cara dilakukan manusia untuk merealisasikan tujuan hidupnya. Setidaknya, terdapat tiga hal yang hendak ditemukan dalam hidup ini. Pertama, makna hidup. Setiap jiwa bisa saja sama, atau sama sekali berbeda dalam memberi makna atas hidupnya. Ada yang menganggap hidupnya bermakna apabila memiliki mobil mewah, rumah megah dan berwah-wah di tengah kehidupan masyarakat lainnya. Ada pula yang menganggap hidupnya bermakna jika hatinya damai dan bukan menjadi bagian dari masalah di dalam kehidupannya. Selain itu, hidupnya dianggap berarti apabila bermanfaat dan berguna juga bagi yang lain, macam-macam.
Kedua, ada yang memiliki tujuan hidup untuk meraih kebahagiaan. Menjadi bahagia itu pun beragama. Ada yang bahagia apabila membantu orang lain merasakan kebahagiaan itu dan karenanya bahagia bersama-sama. Ada pula yang merasa bahagia apabila hanya dirinya yang bahagia dan tidak peduli kepada manusia lainnya; semacam menari di atas kesengsaraan orang lain. Mencapai tujuan hidup yang serumpun ini, ragamnya juga banyak. Bahkan, untuk kebahagiaan ini, ada manusia yang bukan saja tidak peduli kepada sesama, namun tidak perhatian kepada tuhannya. Macam-macam juga, ragam dalam meraih kebahagiaan hidup.
Ketiga, akhir hidup. Di fatsun ini, ada banyak yang lupa bahwa akhir riwayat ini bisa tiba-tiba datangnya. Ada banyak cerita yang tiba-tiba pergi, tak kembali, walaupun tak banyak orang yang menyangka. Cara mengakhiri hidup juga banyak ragamnya. Ada yang sedang bekerja, beribadah, duduk santai, dan ada juga yang akhir hidupnya terjadi pada saat sedang berolahraga. Intinya, berbagai macam peristiwa bisa terjadi, menimpa siapa saja, di mana saja, karena di bab ini manusia tidak diberi kuasa, dalam wisuda kehidupan ini.
Sungguh pun begitu, hidup ini sejatinya hanya tanda, bahwa yang hidup belum mati. Sebagai yang belum mati, maka dituntut untuk merawat eksistensi hidup, sepanjang bisa dipertahankan. Bagaimana cara mengawal kehidupan itu sendiri, idealnya tidak harus membuat orang lain mati, baik tekstual maupun kontekstual. Tetapi sebagaimana kuburan, idealitas hidup itu seringkali terabaikan. Ada banyak orang yang merasa senang dengan kesedihan orang lain. Ada pula yang lupa bahwa jika bahagia sendirian itu juga nestapa, ada juga yang alpa bahwa yang dimiliki hanya titipan, untuk disampaikan kembali kepada yang Maha Berhak.
Itulah sebabnya, hidup harus berbagi karena setiap diri sejatinya saudara. Berbeda satu hal, berlawanan juga hal lain. Perang bukan tidak penting, tetapi adakah jalan damai lain selain perang? Melihat Rusia dan Ukraina di perbatasan, apa yang dicari? Mendengar sesama umat yang sama saling bersahutan, sebegitu rumitkah untuk sekedar bersatu, sebagai sesama, sebagai saudara, sebagai makhluk yang bisa tulis baca? Memang, tak ada yang sempurna, tetapi tak berarti hidup menjadi tuna sama sekali. Dipandang perlu untuk kembali mengeja abjad dan angka-angka untuk dipahami, karena memahami sebangun dengan mengerti, dan mengerti senafas dengan menindaklanjuti yang dipelajari. (*)