Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Dalam berbagai ajaran, sesama manusia, adalah saudara. Sesama saudara, satu sakit, perasaannya, yang lain juga merasakan sakit. Begitu juga, bila saudara yang lain bahagia, yang lain merasakan kebahagiaan itu juga. Mestinya seperti itu, begitulah.
Di lingkar kenyataan, terdapat dua hal, seperti itu kejadiannya dan tidak begitu keberadaannya. Sebab manusia, unsurnya beragam rupanya. Manusia pertama, manusia yang memposisikan dirinya benar-benar sebagai manusia, dan memanusiakan orang lain.
Kedua, memanusiakan dirinya tetapi tidak memanusiaakan orang lain. Ketiga, manusia yang tidak memanusiakan dirinya dan tidak juga memanusiakan orang lain. Keempat, tidak memanusiakan dirinya tetapi memanusiakan orang lain. Di mana letak diri kita, butuh cermin untuk berkaca, lalu tersenyum, dan bila diperlukan, menertawakan dirinya sendiri.
Pada kehidupan, ada banyak yang lupa pada kesementaraan hidup. Ada yang mengejar sesuatu, dan belum sampai pada yang dikejar, ia terpelanting. Ada juga yang pergi untuk meraih sesuatu dan memperoleh yang diinginkannya. Tetapi belum sempat meletakkan sesuatu itu di rumahnya, ia pergi ke rumah keabadiannya dan tak sempat menikmatinya. Ada juga, yang meraih sesuatu dan menikmati sesuatu itu, sepenuhnya. Begitulah cerita hidup.
Miliarder Scot Young (Rusia) menimbulkan kesan horor bagi banyak orang. Young meninggal tertusuk pagar besi, setelah loncat terjatuh dari lantai empat penthouse miliknya. Young berkonflik dengan istrinya, Michele, yang menuntut harta gono-gini saat perceraian pada 2006. Mereka sudah 11 tahun menikah tetapi di ujung biduk rumah tangga, ia mengajukan tuntutan 400 juta Pound sterlling yang diklaim disembunyikan mantan suaminya, Young.
Begitu juga Adolf Merckle, orang terkaya di Jerman itu membunuh dirinya sendiri dengan menabrakkan badannya ke kereta api. Otto Beisheim, miliarder Jerman lainnya, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri pada 2013 setelah lama menderita penyakit yang tidak diketahui dan tidak dapat disembuhkan. Xu Ming, miliarder asal China, jantungnya mendadak sakit, lalu dia meninggal karena penyakitnya ini.
Di Massachusetts, Jesse Livermore, mendadak sakit pada tahun 1929 karena pasar saham Amerika Serikat jatuh, saat itu. Begitu mendapati kenyataan ini, ia menembak kepalanya sendiri. Tetapi, ada juga orang kaya, Elon Musk, yang memberikan hartanya untuk mendukung inovasi teknologi perubahan iklim lewat yayasan Xprize.
Hidup memang seperti nyanyian anak kecil, balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Ketika salah satu balon meletus, anak kecil, dalam nyanyian itu, mengaku hatinya sangat kacau. Lalu balon yang lain dipegang erat-erat. Pertanyaannya, apakah ketika balon dipegang erat-erat tidakkah semakin menimbulkan tekanan dan memungkinkan untuk meletus lagi?
Tetapi, itu lagu anak-anak, yang prioritasnya bukan soal logika. Ia tidak seperti kehidupan manusia dewasa, yang terkadang seperti anak-anak juga dan tanpa logika, dalam memperlakukan dirinya sendiri maupun ketika memangsa manusia lain; serupa homo homini lupus, saling cakar untuk mempertahankan hidup. (*)