SUMENEP, koranmadura.com – Kementerian Sosial menyalurkan program sembako melalui PT. Pos. Bantuan sosial yang sebelumnya disebut bantuan pangan nontunai itu tidak lagi disalurkan melalui E-Warong (elektronik warung gotong royong).
Dinas Sosial Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menilai kebijakan tersebut efektif. Sebab keluarga penerima manfaat (KPM) menerima bantuan tersebut berupa uang dari PT. Pos Indonesia.
Dengan begitu, menurut Sekretaris Dinas Sosial Sumenep Muhammad Saidi, KPM lebih bebas memilih kebutuhan yang ingin dibeli menggunakan bantuan tersebut.
“Kalau sebelumnya, kan, harus dibelanjakan langsung di E-Warong. Sehingga ada masalah-masalah. Misalnya sembakonya tidak layak konsumsi,” katanya.
Meski begitu, lanjut dia, ada juga beberapa pihak yang menilai kebijakan Kementerian Sosial menyalurkan program sembako melalui PT. Pos tidak efektif.
“Mungkin pemilik warung atau apa, saya kurang paham juga, yang mengatakan bahwa, (kebinajakan) ini kurang efektif untuk di Sumenep. Saya pikir ini efektif juga, kok,” paparnya.
Meski begitu, Saidi meminta agar ke depan penyaluran program Sembako secara tunai di Sumenep tidak dilakukan di satu titik di kantor Pos saja.
Sebab di kabupaten paling timur pulau Madura ini di tiap-tiap kecamatan hanya ada satu kantor Pos. Sehingga hal itu berpotensi menimbulkan kerumunan.
“Saya berharap kepada PT. Pos agar membuka posko penerimaan program bantuan sosial itu di setiap desa, serta mengatur jadwal sehingga penerima atau keluarga penerima manfaat (KPM) tidak sampai berkerumun,” kata Saidi.
Selain soal potensi terjadinya kerumunan jika penyaluran program Sembako itu dilakukan di satu titik kantor Pos, menurut dia yang juga jadi pertimbangan kenapa PT. Pos perlu membuka posko di tiap desa ialah jarak tempuh KPM.
“Kasihan penerima manfaat kalau harus menempuh jarak jauh untuk menerima bantuan. Kalau PT. Pos buka posko di setiap balai desa, itu pasti jarak tempuh penerima manfaat akan lebih dekat,” tambah dia. (FATHOL ALIF/ROS/VEM)