Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Victor, seorang pensiunan di Ukraina, mimpinya terpenggal. Kehendak untuk hidup damai di hari tua, teramputasi keadaan; perang. Setiap hendak tidur di malam hari, harapannya hanya satu, selamat. Sebab di sekitarnya, terdengar dentum bom, tembakan, yang tidak diketahuinya akan menyasar siapa. Peluru kendali (rudal), tidak punya mata yang berbasis BNBA (by name by adress). Jika tak terlindungi, Victor menyadari kehidupannya akan berakhir.
Itu hanya potret kecil dari sebuah negeri yang negaranya, diserang. Ia juga cuma sebagian kecil dari warga yang tidak paham betul mengapa harus ada perang, ada yang menyerang, harus ada yang membuanya geram. Ia hanya ingin tenang dalam menunggu girannya, untuk mati tanpa diawali dengan hantu; rudal, tembakan, dan kerusakan. Victor berpikir, ada sesuatu yang tak bisa dipahaminya sebagai warga sipil. Dia hanya meyakini, negara tidak sedang baik-baik saja. Perang dan serang, adalah hal besar yang menggergaji harapan; ketenangan.
Dalam kecamuk mata batin, pesimisme dan optimisme terkadang tidak ada bedanya. Optimisme hanya sebentuk hibur diri karena keadaan sekeliling runyam. Sedang pesimisme, situasi batin yang tidak memungkinkan semangat karena suasana sekitar serupa ribuan anak panah yang hendak melesat dari busur, mengancam dan mencekam. Tak terbayangkan, bila berada dalam situasi yang kacau perang yang sebenarnya. Sebab situasi ini bukan game, di mana ketika terluka bisa sembuh beberapa saat dan kembali berlaga, berkali-kali.
Apa yang hendak dicapai dalam perang? Barangkali, ego dan ketinggihatian subyektif, yang seolah-olah hanya dengan peranglah urusan ambisi bisa selesai. Masalahnya, ini perang manusia dengan manusia? Lalu ukuran menang dan kalah itu apa? Menguasaikah? Menguasai apa, menguasai siapa? Bukankah perang terbesar adalah menguasai dan melawan dirinya sendiri?
Tetapi, inilah kenyataan. Rusia vs Ukraina hanyalah tamsil dari spiritualitas hidup yang mendengungkan keramaian senjata, kegagahan para serdadu; dunia menyaksikannya. Itu jelas-jelas perang dan kontak senjata. Rusia merangsek masuk ke belahan Ukraina dengan alasan yang bisa dibuat, atau sengaja dibuat-buat. Tujuan utamanya adalah bagaimana menaklukkan pada satu sisi dan bagaimana cara bertahan pada sisi yang lain. Ada ketidakseimbangan sarana, ada ketimpangan serdadu, di situ, di medan perang.
Schofield dan Blake, dalam film 1917, Perang Dunia pertama, bercerita tentang dua serdadu Inggris yang menerima misi mustahil dari komandannya. Mereka berjibaku, melawan waktu, untuk menuntaskan misi tersebut. Film yang disutradarai Sam Mendes ini, menceritakan tentang dua orang prajurit untuk menyampaikan pesan untuk mencegah lebih banyak tentara gugur. Mereka harus melintasi wilayah musuh dan menyampaikan pesan untuk menghentikan serangan yang dapat merenggut ratusan tentara Inggris, yang mengancam kematin 1.600 orang, termasuk saudara dua orang serdadu ini.
Melihat 1917, seperti memandang Rusia-Ukraina saat ini. Banyak yang ingin hentikan perang, tetapi bagaimana caranya, di sinilah soalnya. Seperti hasil musyawarah tikus yang bersepakat agar leher kucing dikalungi genta, supaya jika kucing datang, bisa dikenali lewat bunyi genta di leher kucing dan tikus-tikus bisa sembunyi, untuk menyelamatkan diri. Pertanyaannya, tak satu ekor tikuspun yang bersedia mengalungkan genta di leher kucing, walaupun, tindakan ini sudah hasil kesepakatan dalam musyawarah para tikus. (*)