BANGKALAN, koranmadura.com – Kasus teror terhadap tujuh aktivis Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur dinilai tak ada kejelasan. Atas dasar itu, sejumlah pemuda demo Markas Kepolisian Resor (Mapolres) setempat, Senin 7 Maret 2022.
Sekitar pukul 10.00 Wib, puluhan pemuda itu berjalan dari depan kantor lama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangkalan, sambil lalu berorasi. Mereka, sesalkan kinerja pihak kepolisian yang tak bisa menuntaskan kasus teror terhadap aktivis.
“Lalu kerja kepolisian apa? Tidurkah atau memang sudah menerima suap dari salah satu oknum,” teriak salah satu orator, Mahrus.
Dia menyampaikan tujuh aktivis yang diteror diantaranya, pada tahun 2010 perusakan mobil dan rumah milik Haliman Haris, tahun 2011 pembacokan terhadap Fahrillah, tahun 2013 pembacokan kepada Muzakki dan Mahmudi Ibnu Khotib.
Selain itu, lanjut dia, pada tahun 2014 ada kasus pembacokan terhadap Musles, tahun 2015 penembakan terhadap Mathur Husyairi dan terakhir pada tahun 2018 pembacokan terhadap Mujiburrohman.
“Kasus pembacokan dan penembakan terhadap 7 aktivis tidak ada perkembangan sama sekali,” ujar dia.
Pantauan di lokasi, aksi demo masih berlanjut. Secara bergantian massa berorasi. Kapolres Bangkalan, AKBP Alith Alarino hadir mendengarkan keluhan massa. Sementara anggota kepolisi berbaris menjaga keamanan dan ketertiban proses aksi demo. (MAHMUD/ROS/VEM)