Oleh: MH. Said Abdullah (*)
Pekan ini, akan memasuki bulan ramadan; bulan yang diyakini umat Islam sebagai bulan suci. Juga, dianggap sebagai bulan penuh keberkahan, rahmat dan menjadi kesempatan bertobat memohon ampun sehingga dapat membebaskan dari api neraka.
Pada bulan ini umat Islam di seluruh dunia akan menjalankan ibadah puasa ramadan, yang diyakini menjadi media menuju ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Secara formal sebagaimana ditegaskan dalam alquran surat albaqarah ayat 183, ibadah puasa memang merupakan instrumen agar manusia mencapai derajat ketakwaan.
Kaidah keimanan itu sangat jelas tercamtum dalam alquran maupun hadis Nabi Muhammad SAW. Sebuah penegasan bahwa keseluruhan peribadatan dalam bulan ramadan menjadi salah satu ibadah utama agama Islam, yang merupakan bagian dari rukun Islam. Demikianlah antara lain konsepsi ubudiyah bulan ramadan.
Sebagaimana ibadah lain, selalu ada tuntunan sosial dalam pelaksanaan ibadah puasa. Secara subtansi bahkan ibadah puasa disebut-sebut oleh beberapa ulama merupakan stimulus sosial luar biasa. Puasa diyakini sebagai ibadah yang bertujuan secara khusus mendorong keseimbangan kepedulian sosial umat Islam.
Dari pelaksanaan ibadah puasa umat Islam didorong secara lebih intensif dan efektif serta progresif dalam kepedulian sosial. Melalui puasa, umat Islam yang masih ‘pelit’ dibangkitkan kesadaran kepedulian sosialnya. Sementara mereka yang sudah terbiasa peduli pada sesama, melalui ibadah puasa, disegarkan dan didorong lebih bersemangat lagi dalam kepedulian sosial.
Inilah kekuatan luar biasa aktivitas ibadah puasa. Seakan melalui puasa Allah SWT mengingatkan umat Islam agar selalu memiliki empati dan kepedulian kepada sesama. Rasa lapar dan haus dalam berpuasa, diharapkan meresap menjadi pengingat kesadaran diri. Betapa berat kondisi melelahkan ketika sedang lapar dan haus. Jika, hanya beberapa jam saja, telah membuat derita, apalagi mereka yang terpaksa ‘berpuasa’ dalam kehidupan keseharan akibat ketakberdayaan terbelenggu kemiskinan.
Pada konteks inilah tidak salah bila puasa dianggap instrumen terpenting menyeimbangkan ketaatan berubudiyah dan kepedulian sosial. Melalui ibadah puasa manusia seakan diajak praktek langsung merasakan derita dan nestapa, orang-orang yang sedang mengalami berbagai kesulitan.
Puasa juga, sering dianggap sebagai pemacu dan penyegar dan pembangkit nilai-nilai kemanusiaan. Bukankah agama diturunkan Allah ke permukaan bumi agar manusia mampu mengembangkan potensi kemanusiaannya. Bukankah agama mengingatkan bahwa manusia harus saling bahu membahu dalam keseharian sejalan karakter utamanya sebagai makhluk sosial.
Surat al Maun, sebagai salah satu surat dalam al Qur’an menegaskan sangat tajam tentang nilai-nilai kemanusiaan sebagai subtansi agama. Secara tegas bahkan disebutkan dalam surat Al Maun bahwa manusia berdusta, berbohong mengaku beragama, jika tidak peduli kepada fakir miskin dan anak yatim. Sebuah penegasan sangat tajam tentang tujuan diturunkan agama untuk kemanusiaan.
Ibadah agama Islam lainnya seperti sholat, haji, zakat memang juga memiliki dimensi kemanusiaan. Namun, pada ibadah puasa dimensi kemanusiaan seolah menjadi ‘tuntutan’ melalui keharusan merasakan nestapa dan derita orang lain: rasa lapar dan dahaga. Pada puasa terlihat pula keseimbangan tuntutan keimanan ketika rasa lapar dan haus bersifat sangat personal, tanpa orang lain mengetahui.
Sangat luar biasa manfaat ‘madrasah’ bernama ibadah puasa dalam mendorong kepedulian dan solidaritas sosial. Apalagi ketika dua semangat itu berangkat dari kesadaran spiritual, wujud keyakinan dan keimanan.
Di negeri Indonesia tercinta, sejatinya nilai puasa akan jauh lebih mudah meresap karena telah tertanam fondasi sosial bernama gotong royong. Nilai-nilai puasa, seakan menemukan kesesuaian indah, yang diharapkan saling menguatkan semangat kepedulian, kesetaraan, kesamaan serta persaudaraan. Semuanya, diyakini makin menambah energi negeri ini, menuju kehidupan lebih baik. Marhaban Ramadan, Marhaban Bulan Kepedulian. (*)
*Ketua Banggar DPR RI.