Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Seorang kawan, bertamu; curhat. Ia merasa tidak punya harapan atas kondisi bangsanya. Dahinya mengernyit, membentuk parit-parit kecil yang merambat di wajah, di bagian atas rautnya. Disebutkan, negaranya, di bawah kendali kaum oligarki dan plutokrasi. Sehingga, pemimpin negeri tidak berdaulat, disetir oleh dua kelompok itu. Sehingga, posisi rakyat, menjerit, terjerat, dan sekarat.
Lelaki itu takut menyebut nama negara yang didiami. Era digital, baginya adalah monster yang dapat menjebak seseorang terperangkap dalam undang-undang teknologi informasi. Ia meminta saya untuk tidak menceritakan yang dikeluhkannya kepada siapa pun. Bahkan, katanya, andai Tuhan tidak maha mendengar, baginya juga tidak perlu tahu. “Tolong, jangan cerita. Hanya Tuhan, engkau, dan saya saja yang mendengar soal ini, soal negeri,” pintanya.
Negeri yang dihuninya, dianggap tidak bersandar pada garis besar haluan bernegara. Ada diktum yang dilacurkan dari semula untuk keadilan sosial, berubah menjadi kesejahteraan primordial. Kondisi ini hanya membuat senang beberapa kelompok, dan menjungkalkan masyarakat yang tidak berada dalam komunitasnya. Idealitas berbangsa, berjalan bak kereta api yang lepas dari rel, menabrak apapun yang dilalui; termasuk menghantam kemanusiaan itu sendiri.
Ada ketidakseimbangan antara pendapatan makhluk atas dan penduduk di bawahnya. Jurang itu menganga sangat nagras. Orang kecil, butuh minyak goreng, sulit; walaupun hanya sekadar hendak membeli. Sementara orang besar, memiliki kolam renang minyak goreng tak teredar. Di posisi inilah; ia membuat kesimpulan; seperti ada yang tidak beres dalam penyelenggaraan negara. Jika pemimpinnya adalah pembalap, maka pilihannya hanya ada dua; ngegas mendadak dan atau tiba-tiba ngerem. Bilamana sang pemimpin sebentuk pilot, maka pilot itu mengendalikan pesawat yang seolah-olah berada dalam pesawat yang sedang dibajak.
Tetapi, curhat kawan itu, bisa jadi hanya persepsi; kesimpulan subjektif atas gundah resah yang dialami secara individualistik. Bisa juga, persepsi pribadi itu sebentuk pemikiran delegatif, di mana banyak individu lainnya mengalami hal yang sama. Maka supaya unsur ilmiahnya ada, butuh observasi agar terjadi kesesuaian antara kebenaran persepsif dengan kebenaran objektif. Ibaratnya, ada korelesi yang signifikan, antara yang disampaikan secara sepihak dengan kenyataan yang dialami banyak pihak.
Saat diminta menanggapi, apakah yang diceritakan kawan tersebut, tentu hanya ada tiga kemungkinan. Pertama, bisa jadi tidak begitu. Kedua, boleh jadi memang seperti itu. Ketiga, sangat mungkin jauh lebih terpuruk dari itu; tergantung dari pespektif yang menilai. Memandang gajah dari jarak yang sangat dekat, biasanya gajah tidak terlihat sebagai gajah. Begitu juga, jika memandang semut dari lokasi yang amat jauh, semut tidak terlihat. Hanya, menganalisis kenyataan dengan menggunakan kacamata hermeneutika, cerita seorang kawan tersebut mendekati kebenaran, walaupun, sesuatu yang dekat dengan kebenaran, secara substansial bukan kebenaran itu sendiri.
Ia, lelaki itu, menangis. Ketika seorang kawan ini ditanya mengapa memburaikan airmata; kata-katanya cukup pendek, “Sampai kapan situasi ini akan seperti ini (menyedihkan, menjungkalkan kehidupan kelas bawah dan kian meruncingkan taring kaum oligarki dan plutokrasi)? Tiba-tiba teringat pemimpin setelah Sang Nabi, Sayyidina Ali bin Abi Thalib; sejatinya tidak ada orang miskin di negeri ini. Kalaupun kaum papa itu hadir, hanya orang kaya yang enggan berbagi. Maka, ayat yang mana lagi yang didustakan, bila penduduk negeri sudah bisa membaca dan tidak tuna aksara serta bisa mengeja angka?
Listrik padam. Gunung meletus. Laut menghempas ombak, daratan tergerus. Hutan gundul, aset negara terjual, orang asing merangsek, masuk ke pusaran. Kedaulatan tercerabut, hukum menghunjam alit, kekebalan merasuki para alit. Jalanan tergenang air, kendaraan tetap berjalan, seperti kapal selam. Warga sesak napas, dan hanya inilah bagian yang mereka punya. Orang kaya berumur panjang, pengusaha melenggang; bebas menjarah atas nama pemilik saham geografis-kontekstual. Ia katakan, perjalanan bangsanya sudah terperangkap dalam sebuah teori, katak rebus katak dalam kuali, saat direbus dalam kuali berisi air, merasa biasa saja karena hidupnya memang di air; tetapi semakin lama, katak itu menyadari dirinya terpanggang, dan mematikannya. (*)