Oleh: MH. Said Abdullah (*)
Sekalipun belum diputuskan pemerintah, ada kemungkinan Covid-19 tak akan lagi disebut pandemi melainkan endemi. Ini berarti bukan lagi wabah yang merebak di seluruh Indonesia namun didasarkan perkembangan pada skala kawasan lebih kecil. Misalnya, terjadi di salah satu provinsi atau beberapa kabupaten.
Untuk lebih memperjelas contoh endemi di Indonesia adalah kasus malaria atau deman berdarah. Peningkatan dua kasus itu dalam beberapa tahun belakangan tidak terjadi di seluruh Indonesia, hanya di daerah tertentu saja. Juga, biasanya pada bulan-bulan tertentu, misalnya pada bulan Februari atau pada masa pancaroba.
Perkembangan penetapan mengarah pada endemi ini didasarkan pertama, fluktuasi terinfeksi masyarakat mulai menurun sangat signifikan. Dalam kasus Omicron para ahli memprediksi Indonesia sudah jauh melewati masa puncak pandemi. Kedua, tingkat penanganan penyakit Covid-19 dan variannya relatif lebih dikenali, tidak seperti saat awal, ketika baru muncul. Pengobatan pada masa awal muncul Covid-19 seperti masih meraba-raba. Saat ini penanganan lebih sistematis dan jauh lebih efektif. Ketiga, indikasi memperlihatkan akibat terinfeksi jauh berkurang tingkat resiko terhadap kesehatan dan keselamatan masyarakat.
Faktor ke empat, yang merupakan pertimbangan paling penting adalah upaya vaksinasi, yang telah berjalan baik. Termasuk vaksinasi booster atau vaksinasi ketiga. Tiga tahapan vaksinasi ini diyakini makin memperkuat daya tahan masyarakat sehingga sekalipun terinfeksi tidak berakibat fatal.
Berdasarkan data Kementrian Kesehatan, perkembangan vaksinasi Indonesia sudah relatif baik. Untuk dosis pertama, masyarakat yang sudah divaksin telah mencapai angka lebih dari 193 juta lebih atau sekitar 70,07 persen. Yang telah melaksanakana vaksinasi dosis lengkap telah mencapai 151 juta lebih atau sekitar 55,5 persen. Masyarakat yang sudah melaksanakan booster telah mencapai hampir 15 juta atau sekitar 5,4 persen.
Dengana proses booster yang masih terus berlanjut secara massif, ketahanan masyarakat diharapkan terus membaik. Ini makin meyakinkan pemerintah untuk penetapan Covid-19 sebagai endemi sehingga aktivitas normal masyarakat dapat segera pulih kembali.
Selama lebih dua tahun terkungkung dalam berbagai pembatasan aktivitas berpengaruh sangat besar terhadap keseluruhan kehidupan. Tidak hanya berdampak siginifikan pada pertumbuhan ekonomi. Secara psikologis masyarakat pun merasakan dampaknya seperti kejenuhan, kelelahan dan sebagainya. Para orangtua, terutama ibu-ibu, merasakan langsung dampak pendidikan online selama masa pendemi. Demikian pula peribadatan, yang sekitar dua tahun tidak berjalan normal dan selalu dibayang-bayangi kekhawatiran.
Jika pada akhirnya pemerintah menetapkan Covid-19 sebagai endemi, tetap mutlak dibutuhkan kehati-hatian aktivitas kesehariaan. Paling tidak, masyarakat misalnya, sebagaimana mulai diberlakukan di berbagai negara, jika di ruang terbuka telah bebas dari bermasker, namun dalam ruang tertutup, tetap masih diingatkan agar menggunakan masker.
Seperti disebutkan WHO, pandemi yang mulai memperlihatkan fluktuasi penurunan belum sepenuhnya berakhir. Masih ada kemungkinan muncul varian-varian baru seperti Deltacron, gabungan varian Delta dan Omicron.
Di sinilah penting baik pamerintah maupun masyarakat agar tetap berhati-hati dan waspada jika penyebaran Covid-19 ditetapkan sebagai endemi. Proses menuju endemi agar mempertimbangkan keseluruhan aspek, terutama di daerah-daerah yang tergolong rawan lalu lintas atau mobilitas masyarakat baik lokal maupun manca negara. Masyarakat, juga tidak larut dalam euforia berlebihan dan tertib dalam protokol kesehatan terutama dalam penggunaan masker.
Booster yang baru mencapai sekitar 5,4 persen agar lebih diintensipkan. Ini akan menjadi semacam senjata menghadapi ‘serangan Covid-19’ jika muncul varian-varian baru. Ketahanan tubuh diyakini para ahli merupakan penangkal terbaik dalam menghadapi Covid-19 dan segala bentuk variannya.
Masyarakat perlu menyadari dan belajar dari pengalaman betapa dasyat dampak pandemi, yang berlangsung sekitar dua tahun. Jangan sampai kepahitan, yang telah menyebabkan penderitaan, termasuk kematian sanak saudara, terulang kembali.
Memasuki era endemi, jangan sekali-kali lengah atau kehilangan kewaspadaan. Pengalaman, harus selalu menjadi guru terbaik kehidupan. (*)
*Ketua Banggar DPR RI.