Oleh: MH. Said Abdullah (*)
Setelah hampir sepekan event internasional MotoGP di Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, perbincangan ternyata masih berlanjut dan bahkan relatif hangat. Bukan soal pembalap Marc Marquez yang batal ikut tarung karena kecelakaan saat sesi pemanasan. Juga bukan cerita heroik pemenang trofi juara MotoGP Miguel Oliveira. Yang sampai sekarang masih ramai justru yang tak berkait langsung pertarungan.
Soal pawang hujan di Mandalika, yang justru menyelinap seakan melebihi perbincangan event riil internasional MotoGP. Adalah Rara dan aksinya saat mengalihkan hujan yang sampai kini menjadi buah bibir pro dan kontra. Tak hanya di Indonesia, di berbagai media luarpun pemilik nama lengkap Raden Roro Istiati Wulandari, masih jadi pemberitaan.
Berbeda dengan pemberitaan di luar negeri yang cenderung mengarah pemberian apresiasi -tentu tidak sepenuhnya pada keberhasilan mengalihkan hujan sehingga event dapat berlangsung. Sebagian melihat dari pesona attraksi Rara di tengah ribuan pasang mata.
Di dalam negeri pemberitaan justru mengarah perdebatan relatif lebih kompleks. Praktek pawang hujanpun diseret ke persoalan teologi. Jadi, di luar negeri ya dianggap biasa saja, ada yang menyebut hiburan, sebagai budaya, ada yang relatif serius menganggap keberhasilan dan berbagai pandangan yang nuansanya lebih memandang praktek kearifan lokal.
Perbincangan di dalam negeri terasa mengejutkan. Seakan praktek pawang hujan, baru muncul hanya di event MotoGP Mandalika. Padahal, masyarakat Indonesia mengetahui bahwa praktek sejenis Rara bukan hal aneh. Hampir tak ada event nasional, regional, lokal yang diselenggarakan di negeri ini, tanpa praktek pawang hujan. Selalu acara pemerintah, apalagi event nasional, disertai upaya pengalihan hujan melalui kehadiran pawang hujan.
Jangan lupa, pada event personalpun seperti pernikahan, sunatan, walimatul safar praktek pawang hujan terang-terangan atau diam-diam selalu menyelinap. Fiqih (tata cara) mengalihkan hujanpun dapat beraneka ragam sesuai daerah dan kepercayaan para pelakunya. Dan yang menarik, semua dalam praktek tertuju sebagai permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Termasuk, yang Rara lakukan seperti dijelaskannya. Jadi, apa masalahnya?
Kalau berbicara keanekaragaman cara sesuai keyakinan dan praktek budaya, sudah hal wajar menjadi terlihat aneh bagi yang berbeda. Sama saja dengan praktek keagamaan ummat agama A misalnya, akan terasa aneh bagi ummat agama B. Demikian berlaku dari sudut pandang agama masing-masing.
Jika dibandingkan ritual agama Islam, yang dilakukan Rara sejalan dengan praktek peribadatan memohon hujan yaitu sholat Istisqa. Bedanya, yang satu mengalihkan hujan, yang ummat Islam memohon hujan. Bahkan, di ajaran agama Islam ada doa yang diajarkan oleh Rasulullah untuk mengalihkan hujan.
Lagi-lagi di sini, sebenarnya lebih pada praktek fiqih, antar agama, yang memang berbeda. Namun, keseluruhan merupakan ikhtiar memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya, cara saja, yang berbeda sesuai keyakinan keagamaan dan pengaruh budaya masing-masing.
Yang menarik, ketika berbagai komentar muncul dari para politisi, yang saat ini berada di luar kekuasaan. Betapa gencar mereka menyerang praktek pawang hujan di Mandalika. Demikian bersemangat sampai mereka lupa, ketika mereka berada di dalam kekuasaan, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menjabat, praktek pawang hujan, sangat marak bahkan bukan hanya satu. Pernah dalam satu kesempatan acara SBY, dikerahkan seratus pawang hujan.
Kemana mereka, ketika praktek itu dilakukan oleh Presiden SBY. Mengapa mereka tidak pernah mempersoalkan padahal jauh lebih sistematis, massif dan terstruktur. Kenapa baru sekarang demikian gencar, mempersoalkan praktek pawang hujan, yang sebenarnya merupakan kearifan lokal, yang secara subtansi merupakan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Jejak digital praktek pawang hujan era Presiden SBY, yang belakangan diungkap untuk merespon politisi partai pendukung kekuasaan di era itu, memberi gambaran riil tentang politisasi. Semuanya, diseret ke arah kepentingan politik termasuk pawang hujan. Demikian pula, event MotoGPpun sepenuhnya dilihat dari kepentingan politik. Tidak dilihat dari kaca mata kenegaraan, kepentingan negara untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya, masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Sungguh bijaksana dan terlihat jelas jiwa kenegarawanan Presiden Jokowi, yang demikian luar biasa memperhatikan kepentingan masyarakat seluruh Indonesia, tanpa kecuali. Walau saat Pilpres 2019, di Nusa Tenggara Barat kalah, namun Jokowi tetap meneruskan pelaksanaan proyek Internasional Mandalika.
Demikian seharusnya cara pandang para politisi di negeri ini. Jiwa kenegarawanan dikedepankan. Ketika menyangkut kepentingan rakyat, kepentingan negara, baju kepentingan politik, ego partai dibuang jauh-jauh.
Event Mandalika, di Lombok, Nusa Tenggara Barat adalah kepentingan rakyat, kepentingan Indonesia. Nama Indonesia, yang dipertaruhkan. Demikian pula, keberhasilannya untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat NTB. Karena itu seharusnya, seluruh rakyat memberikan dukungan, memberikan kritikan konstruktif dan bukan malah bersikap nyinyir mempersoalkan hal-hal elementer.
Lihatlah apresiasi masyarakat dunia, sangat luar biasa. Aneh kan, jika sebagian masyarakat Indonesia sendiri, justru bersikap sinis, nyinyir dan perilaku kurang arif lainnya. Kapan negeri ini dapat maju, jika untuk kepentingan rakyat dan negara, yang kasat mata, masih sibuk saling sikut. Semoga, tidak terulang lagi pada event lainnya. (*)
*Ketua Banggar DPR RI.