Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Pernahkah terlintas dalam pikiran tentang masa depan; apapun? Bagi yang memiliki pandangan masa depan, hampir pasti semua orang mengalami. Kelam, mencekam, membahagiakan, atau membahayakan.
Semua memiliki masa lalu, dan masa depannya masing-masing. Mungkin sama, atau sama sekali berbeda. Tak terbayangkan dulu akan seperti ini adanya, situasi ini. Minyak goreng seperti halnya kebajikan, sudah mulai langka. Hidup sebagaimana dikatakan Presiden RI, Joko Widodo, ruwet, ruwet, ruwet! Dia mengulang diksi itu sebanyak tiga kali. Begitu pentingnya keruwetan saat ini. Nabi dulu juga mengulangi tiga kali, pada kalimatnya, ketika ditanya kepada siapakah harus berbuat baik terlebih dahulu, ibumu, ibumu, ibumu!
Masalahnya era kini, satu pihak terhadap pihak lain sebagian besar telah menganggap sebagai orang lain. Persatuan Indonesia hanya ada di dalam Pancasila. Dalam kenyataannya, persatuan, persaudaraan itu nyaris punah ditelan masa. Orang-orang republik sebagaimana pernyataan bercanda, menjadi SDM, selamatkan diri masing-masing.
Inilah kondisi saat ini, hanya sedikit orang yang menyediakan dirinya untuk menjadi peduli. Yang dianggap menghambat, disikat. Dianggap batu sandungan, dinilai memperlambat derap laju pengusaha, atau penguasa; kaki. Walaupun, sejatinya, melindungi; demi tegaknya kebajikan itu sendiri. Tetapi rasa-rasanya, kata telah ditinggal pergi maknanya. Sutardji Calzoum Bachri tak diindra; ia membebaskan kata untuk menjelaskan maknanya sendiri. Namun ya beginilah, hidup penuh pemandangan saling buru. Kuasa, kadang-kadang (untuk tidak menyebutnya seringkali), menginjak.
Ini belantara, buas. Seperti tidak ada saudara, seakan tidak ada sesama penduduk negeri, terabas saja. Ada rindu damai yang digergaji keadaan. Individuasi menggerogoti pelosok tanah air. Apa lagi yang bisa dibanggakan dengan situasi seperti ini, kecuali pada sebagian pihak yang masih berpegang pada nurani, yang nalurinya masih jernih sebagai manusia. Populasinya tidak banyak yang seperti ini, sudah menjadi barang langka, dan sekali lagi, hampir punah.
Seno Gumira Adjidarma suatu ketika, menulis Manusia Kamar; jauh lebih damai. Sebab keluar dari kamar, tak memungkinkan lagi bertemu dengan yang didambakannya; suatu kehendak yang nyata sederhana. Maka hidup seperti paparan Kevin Costner, tergantung siapa yang membesarkan dan di belahan mana ia hidup; siapa yang berada di sekitarnya. Ia menceritakan seorang anak yang hilang atau kesasar di hutan. Di belantara inilah anak itu dibesarkan srigala. Sebagai manusia, ia paham, sekejam apapun srigala, tidak pernah memangsa anaknya.
Kisah manusia yang dilihatnya berbeda dengan srigala. Memangsa sesama, menggergaji anak atau orang tua, manusia yang tidak didedahi kesrigalaan, dalam pandangan anak itu, jauh lebih barbar dibanding srigala yang hidup bersamanya. Tetapi, itu di dalam film, Dances with Wolves. Film itu diputar tahun 1990, sudah lama sekali. Hanya kejadiannya berlangsung sampai saat ini. Horor, mungkin. Mengerikan, pasti.
Tak ada lagi yang ditakuti di belantara ini; Tuhan? Tidak juga kata Salim Said, sang guru besar itu. Lalu apa, atau siapa? Hanya sedikit pihak yang benar-benar takut pada keberanian yang tidak sepatutnya berotot di domain itu. Masa depan ini milik siapakah sebenarnya? Atau masa depan itu apa, atau masa depan untuk siapa? Pewaris negeri itu juga siapa? Pewaris tahta, mungkin lebih pasti, ada!
Si Kancil itu, selalu menjadi anak nakal, dikejar seharusnya, jangan diberi ampun. Ia mencuri timun, ruang khalayak dan mengambil alih domain publik. Inilah masa depan itu, jangan-jangan. Atau, adakah masa depan? Tetapi yang seperti apa? Adakah yang punya jawaban? Tanya Naruto, siapa tahu, Konoha! Atau tanya saja kepada yang lain, mungkin Pinokio, lebih pas. (*)