Oleh: Abrari Alzael | Budayawan
Sempat berpikir, awalnya, seniman sebentuk orang yang merasa asyik dengan dirinya sendiri. Ia menemukan kedamaian di semesta rupa, dalam seni. Tetapi, asumsi itu tidak sepenuhnya benar, karena seniman, sejatinya ingin sesuatu yang sederhana, tanpa rumit dan sulit.
Maka, kebenaran objektif dalam individualitas seniman, menghendaki kesenimanan pribadi siapapun, terutama, pemimpin. Kualifikasi pimpinan dalam derap yang tanpa seni, akan menampilkan wajah kekuasaan yang batalionistik, militeristik, dan sedikit congkak: sulit dinikmati. Sementara hidup di era kini hanya butuh perilaku dan kebijakan yang simpel, applicable, dan credible.
Dalam konteks hidup, warga republikan, merasa diperlakukan sebagai objek dari kebijakan yang beraroma individualistik (untuk tidak menyebut oligartif). Rakyat lelah, ngos-ngosan dan seringkali dijauhkan dari kebutuhannya untuk mencapai yang simpel itu.
Akibat dari ini, publik mengernyitkan dahi. Itu sebabnya, negara dianggap lacur karena atmosfernya, bergerak di luar garis orbitnya.
Realitas ini adalah problem artistik tentang tata ruang dan tata krama semesta. Melihat pelik ini, publik menganggap negara tidak perlu hadir, jika ruang jelajahnya melampaui takdirnya.
Orang awam, sejatinya hanya ingin diarahkan, bukan dihardik-hardik, dari kuasa atau senopati institusi. Negara, harus melihat kebutuhan warganya, tanpa memaksakan keinginannya yang kadang-kadang (sering) dilakukan secara kolonialistik. Ini bangsa besar, tetapi seringkali mengatur dimensi yang kecil, yang membuat publik bertanya: besar untuk hal kecil?
Kebijakan itu harus berdimensi seni supaya sesuatu yang besar tetap besar. Betul kata Presiden Jokowi, ini (negeri) sudah kebanyakan aturan. Tetapi para punggawanya, rajin membuat regulasi yang dapat menjeratnya sendiri. Tetapi, dalam membuat regulasi, para senopati itu tidak akan bicara apabila tidak seizin tuannya.
Oleh karena itu, seni merupakan conditio sine qua non dalam laboratorium negara. Seni adalah investasi agar rule of law dan haluan bernegara tidak seperti film Soldier, kaku!
Pemaksaan atas kuasa birokrasi yang tidak berpijak pada rasa, akan melahirkan nestapa. Sementara, pembiaran atas nestapa manusia kontekstual, akan memunculkan sengsara berkelanjutan: hari ini terbukti.
Seni, bukan hanya untuk seni. Ia untuk siapa saja yang masih punya hati. Ini juga yang dianut petinggi Amerika saat itu, John F Kennedy, jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya. Apabila politik itu bengkok, sastra yang akan meluruskannya.
Kondisi saat ini, siapa, apa yang tidak bersih, apa, siapa yang bengkok? Orangnyakah, sistemkah, gangsterkah, kacamatanyakah, cara pandangkah, atau semuanyakah? Pasti bukan semuanya, tetapi seluruhnya, nyaris! (*)